Rabu, 12 November 2008

BILA GARIS DITARIK, ANDA DI SEBELAH MANA?

Peperangan antara dua negara biasanya memiliki garis pemisah yang jelas dan dengan prajurit yang memakai seragam yang berbeda. Masing-masing prajurit tahu siapa lawan dan siapa kawan. Hampir tidak mungkin terjadi salah tembak atau salah mengidentifikasikan musuh.

Lain dengan perang saudara dalam satu negara (civil war) dimana biasanya tidak jelas wilayahnya dan para pejuang tidak mengenakan seragam tertentu. Bahkan dalam kondisi kalut, mereka tidak tahu yang mana kawan dan yang mana lawan.

Menjadi Prajurit Kristus

Sementara itu Alkitab memberitahukan kita bahwa sejak kita diselamatkan maka pada saat itu juga kita memasuki arena peperangan rohani (II Tim 2:3). Musuh kita bukan manusia melainkan roh-roh jahat yang bekerja dibalik manusia yang mempergunakannya (Ef 6:11-12). Tentu kita tidak memerangi manusianya melainkan mengasihinya.Kita hanya ingin memerangi paham dan konsep fasik (ungodly) yang ditanamkan oleh musuh Theos ke dalam pikiran mereka.

Senjata kita dalam memerangi roh-roh jahat bukanlah senjata yang terbuat dari besi atau materi melainkan senjata rohani (Ef 6:13-18). Senjata rohani tidak akan melukai tubuh jasmani. Oleh sebab itu peperangan rohani yang diperintahkan Tuhan dalam Alkitab bukan sebuah tindakan anarkis.

Mengapa Yudaisme Anarkis ?

Yudaisme dibangun dari satu orang yang bernama Abraham. Theos mengadakan perjanjian dengan Abraham, bahwa Ia akan menjadi Theos bagi seluruh keturunannya yang adalah umat Theos. Perjanjian ini dikuatkan dengan tanda darah, yaitu sunat. Oleh sebab itu setiap keturunan Abraham yang tetap memelihara janji ini akan menyunatkan anak lelakinya, dan kalau ia tidak melakukannya maka itu berarti ia mengingkari janji dan ia patut dibunuh (Kel 4:24-26).

Dari satu keturunan Abraham Theos membangun satu bangsa khusus untuk menghadirkan Juruselamat yang dijanjikan-Nya kepada umat manusia. Khusus untuk bangsa ini, Theos tidak mau menemukan satu orangpun yang tidak beribadah kepadaNya, atau mengingkari janji-Nya.

Pada awal terbentuknya bangsa ini, Theos sendiri adalah raja mereka. Namun kemudian mereka meminta seorang raja, sehingga diangkatlah Saul untuk menjadi raja. Karena Theos adalah raja mereka, maka negara dan agama adalah satu. Umat agama adalah warga negara, dan warga negara adalah umat agama. Bersatunya agama dengan negara ini disebut Sacral Society. Dalam sistem ini, yang menentang agama dilihat sama dengan menentang negara, dan yang menentang negara dilihat sebagai menentang agama. Seluruh warga negara mempercayai satu agama, dan jika ada yang berubah maka ia dibunuh.

Apakah bangsa lain dan agama lain bisa memakai sistem ini ? Tentu tidak bisa! Kecuali bangsa itu juga dibangun dari satu orang seperti Theos membangun bangsa Israel dari Abraham. Bangsa lain ketika berdiri telah dalam kondisi plural. Misalnya Indonesia yang sejak menjadi bangsa pada tanggal 17 Agustus 1945 telah terdiri dari penduduk yang berbagai agama, bukan dibangun dari satu keturunan dengan satu iman.

Instruksi Theos kepada pemimpin Yahudi ialah bunuh setiap orang yang membangkang terhadap perjanjian dengan Theos. Mengapa demikian kejam ? Jawabnya, Theos sedang memakai bangsa Israel yang dibangun-Nya untuk menurunkan Juruselamat bagi umat manusia. Agar bangsa Israel tidak terkontaminasi oleh bangsa-bangsa yang telah lama menjadi penyembah berhala, Ia harus memberlakukan hukum yang sangat keras itu.

Hukum yang sangat keras itu dimaksudkan juga agar ibadah simbolik yang dilakukan bangsa Israel tidak terkontaminasi oleh berbagai ibadah penyembahan berhala. Sejak manusia jatuh ke dalam dosa, Theos segera menjanjikan usaha penyelamatan. Ia akan mengirimkan Penyelamat yang akan menanggung hukuman dosa manusia. Sebelum sang Penyelamat tiba, Ia memerintahkan manusia melakukan upacara simbolik penyelamatan dengan MENYEMBELIH DOMBA di atas mezbah. Upacara ini menyimbolkan cara penyelamatan Theos yang akan menghukum dosa dengan kematian, dan domba menyimbolkan Penyelamat yang akan dihukum mati.

Upacara simbolik ini kemudian diteguhkan dalam upacara yang lebih lengkap dalam Bait Theos, dan dijaga oleh bangsa Israel. Sementara itu bangsa-bangsa lain terhanyut dalam penyembahan iblis. Hanya segelintir bangsa non Yahudi yang menyadari bahwa Theos bangsa Yahudi adalah Theos yang benar dan mereka juga pergi keYerusalem untuk beribadah (Kis 8:26 dst).

Jadi tindakan Tuhan untuk mendirikan Sacral Society dengan resiko menjalankan hukuman yang keras bagi pelanggarnya adalah demi agar jalan keselamatan yang direncanakan tidak akan terganggu dan upacara simbolik yang berfungsi membentuk konsep manusia tentang KORBAN DOSA tidak akan terkontaminasi.

Bangsa Lain Boleh Meniru ?

Bangsa lain tidak memiliki alasan untuk meniru Sacral Society Yudaisme karena tidak ada kebutuhan untuk itu. Di dunia ini tidak ada satu bangsa pun yang didirikan melalui keturunan satu orang yang berjanji dengan Theos bahwa seluruh keturunannya akan menjadi umat Theos. Tindakan untuk menciptakan Sacral Society pasti akan menghasilkan tindakan anarkis dan pelanggaran hak asasi manusia.

Agama yang konsep teologisnya adalah sistem Sacral Society akan berusaha mati-matian menyatukan agamanya dengan negara. Dan setelah agama tersebut disatukan dengan negara, maka langkah selanjutnya adalah MENGANIAYA umat agama lain. Ini adalah teori yang telah terbukti dalam perjalanan sejarah. Yudaisme adalah contoh yang paling kuno, dan Katolik di negara mayoritas Katolik, serta Islam di Iran, Afganistan adalah contoh nyata sebuah usaha mewujudkan Sacral Society di abad modern.

Lalu Kekristenan Alkitabiah ?

Kekristenan Alkitabiah mengerti bahwa praktek Sacral Society yang diadakan Theos akan dihentikan-Nya pada saat Mesias yang dijanjikan tiba. Ketika Mesias tiba, maka upacara simbolik yang mengambarkan-Nya tidak dibutuhkan lagi, maka Sacral Society yang berfungsi untuk menjaganya pun tidak dibutuhkan lagi (Luk 16:16). Ketika hakekat dari keselamatan itu tiba, ibadah dalam upacara rituil simbolik dihentikan dan diganti dengan ibadah di dalam roh dan kebenaran (Yoh 4:23). Ibadah di dalam roh dan kebenaran tidak terikat pada CARA, TEMPAT, WAKTU. Ibadah di dalam roh artinya tidak bersifat jasmaniah melainkan rohaniah, dan dalam kebenaran artinya dengan pengertian dan bukan ikut-ikutan seperti ibadah simbolik. Dalam ibadah roh dan kebenaran, agama dan negara HARUS dipisahkan karena sifat ibadahnya sukarela bukan yang diselenggarakan oleh negara dengan cara paksa. Gereja atau kelompok kekristenan yang tidak paham akan kebenaran ini PASTI akan terjebak dalam usaha mencoba mendirikan Sacral Society seperti Katolik di negara yang berpenduduk mayoritas Katolik, demikian juga dengan Protestan di daerah tertentu. Telah tercatat dalam sejarah dan tidak bisa dihapus lagi bahwa Bapak-bapak Reformator membunuh orang demi membentuk Sacral Society di negara kekuasaan mereka. Di Amerika terdapat banyak monumen penganiayaan yang dilancarkan gereja Episcopal terhadap Anna-Baptist. Belakangan ini Karen Amstrong menulis sebuah buku, dan diterjemahkan dengan judul Berperang Demi Tuhan, (Fundamentalisme dalam Islam, Kristen, dan Yahudi) telah membahas tentang kekristenan dengan gegabah dan sama sekali tidak berpengertian. Jelas sekali Amstrong tidak mengerti tentang sistem Sacral Society dan sembarangan menuduh dengan tanpa pengertian yang benar.

Kekristenan yang melakukan kekerasan (anarkis) itu bukan dari kalangan Fundamentalis melainkan dari kelompok yang berusaha mendirikan sistem Sacral Society di wilayah dimana mereka mayoritas. Sedangkan kelompok Fundamentalis adalah kelompok yang tidak membalas kekerasan dengan kekerasan melainkan yang siap menyodorkan pipi kiri sesudah ditampar pipi kanannya. Kelihatan sekali bahwa si penulis terobsesi oleh Fundamentalis agama tertentu yang telah bertindak anarkis dan tanpa mempelajari dengan sungguh, secara ceroboh melabel Fundamentalis Kristen dengan label yang sama. Atau sangat mungkin Karen Amstrong memiliki maksud tersembunyi untuk merusak nama baik Kristen Fundamental yang harum dengan mensejajarkannnya dengan kelompok Fundamentalis lain.

Setelah Tuhan menutup sistem Sacral Society dan menggantikannya dengan sistem Gereja Lokal (penyembahan dalam roh dan kebenaran), paradigma baru baik dalam ibadah maupun sikap hidup segera diterapkan. Ibadah rituil simbolik ditutup dan ibadah di dalam roh dan kebenaran dimulai. Kesucian yang dituntut bukan lagi kesucian jasmani melainkan kesucian hati. Dengan paradigma baru ini tidak ada kepentingan untuk mengkristenkan orang secara jasmani karena tidak ada gunanya sama sekali. Orang bersangkutan harus percaya dengan hati dan akal budi, bukan sekedar terdaftar sebagai orang Kristen atau melakukan ibadah lahiriah. Itulah sebabnya tidak ada gunanya memaksa orang menjadi Kristen karena yang penting itu bukan badannnya atau pengakuan formalnya, melainkan sikap hatinya. Sekalipun yang bersangkutan berhasil dipaksa, diancam, menjadi orang Kristen, namun jika hatinya tidak menerima, semua itu tidak ada artinya.

Kristen Fundamentalis faham sekali KEBENARAN KRISTEN YANG PALING FUNDAMENTAL ini sehingga tidak mungkin bagi Kristen Fundamental untuk melakukan PERANG DEMI TUHAN atau AGAMA. Semakin fundamental suatu kelompok kekristenan , mereka akan semakin menekankan KEKUDUSAN HATI sehingga TIDAK MUNGKIN mereka akan melakukan tindakan anarkis apalagi melakukan perang fisik. Sekali mereka melakukan tindakan anarkis maka mereka bukan fundamentalis Kristen lagi melainkan fundamentalis agama lain yang memakai nama Kristen. Kelompok yang mungkin melakukan hal ini ialah umat agama yang getol berjuang untuk membangun sebuah Sacral Society atau yang mempromosikan ibadah lahiriah dan yang berusaha menambah KUANTITAS umat secara lahiriah.

Taktik Menuduh & Merangkul

Banyak orang Kristen tidak tahu bahwa salah satu target utama anti-Kristus di akhir zaman ini ialah mewujudkan satu pemerintahan dunia (one world government), satu ekonomi dunia (one world economy), dan satu agama dunia (one world religion). Kalau kita panjang umur, maka kita pasti akan menyaksikan tergenapinya Wahyu 13:11-18, terutama mereka yang tidak terangkat pada saat rapture.

Tujuan anti-Kristus menyatukan semua aspek tersebut diatas ialah agar di tangannya terdapat kuasa untuk memaksa setiap orang menyembah kepadanya. Siapapun yang menolak menyembahnya pasti akan mengalami kesulitan karena kuasa politik, ekonomi, dan agama ada di tangannya. Dengan disatukan ke bawah satu atau beberapa orang pimpinan, akan memudahkannya memerintah mereka. Sebaliknya jika masing-masing agama berdiri sendiri tentu akan sangat menyulitkannya.

Demikian juga jika semua gereja disatukan ke bawah satu organisasi maka akan sangat memudahkannya menyesatkannya atau memerintahkannya bersatu dengan agama lain, sebaliknya jika masing-masing berdiri sendiri secara organisasi maka akan sangat menyulitkannya.

Apakah yang diusahakan anti-Kristus dalam rangka menyatukan seluruh kekristenan ke dalam satu organisasi ? Jawabnya: dengan menghembuskan DOKTRIN GEREJA UNIVERSAL (Am) yang percaya bahwa tubuh Kristus itu satu dan terdiri dari semua orang Kristen seluruh dunia. Dengan konsep ini maka gereja lokal yang tidak mau disatukan akan dinilai sebagai jahat atau memecah-mecah tubuh Kristus. Ketika pemimpin gereja atau orang Kristen yang tidak mengerti kebenaran dituduh demikian maka mereka akan grogi dan cepat-cepat menyatukan gerejanya ke dalam organisasi persatuan, persekutuan, sinode, dan lain sebagainya.

Pembaca yang saya kasihi, kelihatannya kebenaran ini hanya bisa dipahami oleh orang Kristen lahir baru. Kalau anda tidak bisa faham tolong periksa hati anda. Kelompok Kristen Fundamental bukan hanya bisa memahami bahkan sanggup melihat gerakan anti-Kristus dengan jelas melalui terang firman Tuhan. Sejak reformasi, Ignatius Loyola mendirikan ordo Jesuit dengan agenda utama membawa kembali "saudara" yang memisahkan diri. Kini, tahulah anda bahwa gereja Katolik telah berhasil membawa kembali Gereja Anglikan, Orthodox Timur, Orthodox Yunani, dan berbagai denominasi Protestan juga sudah siap bergabung ?

Femomena yang terjadi tersebut telah membuat kita bertanya, "Mengapakah Marthin Luther, Calvin dan teman-temannya keluar dari Katolik ? Jawabannya, karena gereja Katolik telah menyimpang dari kebenaran. Lalu, mengapakah sekarang gereja mereka mau masuk kembali ? Apakah gereja Katolik sudah berubah atau bertobat ? Sama sekali tidak! Gereja Katolik tidak pernah menyatakan bahwa mereka telah bertobat. Apa yang mereka ajarkan dulu tetap mereka pertahankan hingga sekarang.

Bagi kaum Fundamentalis firman Tuhan yang berkata bahwa terang dengan gelap tidak bisa bersatu (II Kor 6:14) adalah petunjuk yang sangat jelas. Dan yang lebih penting lagi ialah mengerti bahwa doktrin gereja yang alkitabiah adalah DOKTRIN GEREJA LOKAL yang percaya bahwa tiap-tiap gereja lokal adalah tubuh Tuhan Yesus (Ef 1:23) bukan seluruh kekristenan. Memahami akan kebenaran ini akan menjadikan orang Kristen berbahagia dengan gereja lokalnya yang independen dan alkitabiah. Kalau independen namun tidak alkitabiah, juga bukan yang benar. Tiap-tiap gereja lokal berdiri sendiri sehingga jika anti-Kristus bermaksud menyesatkan seribu gereja maka ia harus menyesatkan seribu gembala jemaat. Sebaliknya jika disatukan maka cukup baginya untuk menyesatkan satu atau beberapa pemimpin puncaknya.

Di dalam usahanya untuk menyatukan gereja-gereja, baik ke dalam persekutuan atau sinode sebagai pemanasan atau sebagai tindakan pengkondisian, ia pasti akan MELARANG atau memusuhi tindakan pengajaran doktrin yang memperjelas perbedaan antara satu gereja dengan dengan gereja lain. Ia tahu persis jika doktrin yang benar diajarkan maka ia akan menghadapi kesulitan untuk menyatukan mereka yang salah dengan yang benar (mengaduk tepung tiga sukat dengan ragi, Mat 13:33).

Pembaca pasti sudah sering mendengar slogan "doktrin menceraikan, kasih menyatukan." Atau istilah "interdenominasi", bahkan sekarang bukan inter melainkan no-denominasi. Sesungguhnya baik inter maupun no yang terpenting ialah memahami doktrin yang benar. Ketika doktrin yang alkitabiah dipelajari, maka akan terlihat jelas pengajaran gereja yang alkitabiah dan gereja yang tidak alktabiah.

Apakah Fundamentalis Tidak Toleran

Kelihatannnya ada kerancuan pemahaman antara toleran dan kompromi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, TOLERAN artinya: bersikap menenggang (membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, kepercayaan) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri. Sedangkan KOMPROMI artinya persetujuan dengan jalan damai atau saling mengurangi tuntutan. Arti yang diberikan dalam kamus besar tersebut kelihatannya sudah tepat.

Orang Kristen Fundamental adalah orang yang sangat toleran namun tidak rela berkompromi. Demikian seharusnya sikap setiap orang Kristen. Kita tidak mungkin mengurangi tuntutan kita dalam kebenaran yang kita wartakan. Tetapi tidak pernah akan terjadi bahkan tidak pernah ada niat untuk mengganggu atau memusuhi orang yang berkeyakinan lain. Tidak pernah bahkan tidak boleh ada di dalam benak seorang Kristen fundamental untuk menjahati orang yang berkeyakinan lain. Termasuk tidak berniat mengganggu orang dengan pengeras suara (loud speaker) yang dipasang di luar gedung.

Memberitahu kebenaran yang kita tahu melalui media tulis, media suara (radio), dan media gambar (video/TV) itu bukan tindakan tidak toleran, karena yang bersangkutan bisa tidak membacanya, tidak mendengarnya dan tidak melihatnya. Tindakan demikian adalah ekspresi dari keyakinan Kristen Fundamental bahwa keselamatan hanya ada di dalam Yesus Kristus, dan Alkitab adalah satu-satunya kebenaran dari Theos. Kristen Fundamental tidak pernah memaksa orang percaya kebenaran yang diyakininya melainkan hanya sebatas memberitakannya. Tentu bukan hanya memberitakan sesuatu yang mereka yakini benar melainkan juga termasuk menyatakan sesuatu yang mereka yakini salah.

Berita Injil yang lengkap adalah berita yang positif dan negatif. Kalau seseoarng mempercayainya maka ia akan masuk Sorga namun jika tidak maka akan masuk Neraka. Seandainya beritanya adalah kalau percaya maka akan masuk Sorga tanpa memberitakan bahwa kalau tidak percaya maka akan masuk Neraka, maka itu bukan Injil yang utuh. Memang berita negatifnya tidak enak didengar, dan itu sudah kita ketahui sejak Injil pertama kali diberitakan. Yohanes Pembaptis, pemberita Injil pertama, telah membuat banyak pihak sakit hati dan hasilnya ialah kepalanya dipenggal. Tetapi jika Injil tanpa aspek negatifnya maka ia akan hanya bagaikan berita undangan makan kalau yang datang akan tambah kenyang tetapi jika tidak datang juga tidak apa-apa, paling-paling makan sayur sisa yang belum basi di rumah.

Iblis berusaha agar orang Kristen sendri bingung membedakan antara sikap TOLERAN dan KOMPROMI sehingga takut dinilai tidak toleran maka berkompromi sehingga mengurangi kebenaran Alkitab yang seharusnya tidak boleh terjadi. Sekali kebenaran Alkitab di-discount nilainya, maka ia sudah bagaikan garam yang kehilangan rasa asinnya. Ia tidak berfungsi lagi, ia layak dibuang dan diinjak-injak orang.

Kesimpulan

Pembaca yang saya kasihi, Kristen Fundamental adalah kelompok manusia yang memiliki tingkat toleransi TERTINGGI di dunia. Tetapi sebaliknya memiliki tingkat kompromi TERENDAH di dunia. Kelompok Kristen Fundamental sungguh-sungguh menghayati tugas yang diberikan Tuhan untuk menjadi terang dan garam dunia, tentu bukan dengan pergi kesana kemari sambil membawa lampu petromaks di atas kepala atau selalu menenteng garam di kantong, melainkan melalui doktrin yang alkitabiah yang tidak dikompromikan.

Melakukan pengajaran doktrin yang alkitabiah itu bagaikan menarik sebuah garis yang akan memisahkan antara yang benar dengan yang salah. Garis pemisah antara kebenaran dan kesesatan itu akan menjadi jelas HANYA melalui pengajaran (doktrin). Saat ini memang ada banyak gereja dan denominasi. Tetapi angin yang ditiupkan anti-Kristus maka semua yang berada di bawah pengaruhnya akan menjadi satu kelompok, sedangkan yang dibawah pimpinan Tuhan akan menjadi satu kelompok yang itu terdiri dari jemaat-jemaat lokal yang otonom dan alkitabiah. Kelompok jemaat milik Tuhan akan bekerja sama dalam saling menasehati, saling menguatkan, saling menegur sebagai teman, bukan sebagai atasan-bawahan.

Pembaca yang saya kasihi, ketika garis pemisah ditarik, anda ada di sebelah mana ? Anda ada di sebelah gereja-gereja yang mendukung DOKTRIN GEREJA yang AM yaitu yang suatu hari nanti pasti akan disatukan ke dalam satu organisasi atau anda berada di sebelah gereja-gereja Fundamentalis yang mendukung DOKTRIN GEREJA YANG LOKAL dan otonom atau independen murni dan alkitabiah ?

Ketika Jerman Timur menarik garis perbatasannya (di kota Berlin), dan kemudian membangun tembok, kasihan sekali mereka yang bermain-main di rumah teman mereka di Jerman Timur karena tidak bisa pulang lagi. Kini bukan saatnya untuk bermain-main, melainkan saat mencari tahu, sesungguhnya saya sedang berdiri di pihak mana. Sesungguhnya gereja saya ada di pihak mana. Banyak penduduk kota Berlin yang tejebak karena tidak jeli dalam mengamati situasi. Mereka bersantai ria dan tidak berusaha menyelidiki situasi. Dan yang tahu sedikit juga tidak segera mengambil keputusan karena karena tidak rela meninggalkan sesuatu yang mereka miliki, sayangi, geluti, sehingga ketika tembok Berlin didirikan, yang dapat mereka lakukan hanya menangis, sambil menyesal.

Pembaca, ketahuilah sesungguhnya tidak ada daerah yang disebut zona-netral atau kelompok interdenominasi. Ketika garis ditarik, hanya ada dua wilayah: anda di daerah Kristus sejati atau Kristus palsu. Gereja anda percaya pada Doktrin Gereja Universal (Am) yaitu satu tubuh Kristus yang terdiri Kristen seluruh dunia atau Doktrin Gereja Lokal yaitu tiap-tiap gereja lokal adalah tubuh Kristus yang independen. Atau dengan kata lain anda ada di pihak Fundamentalis atau di pihak Roma Katolik dengan seluruh gereja yang sedang bergerak menggabungkan diri ke dalamnya ? Ingat, hanya ada dua pilihan.

Tidak ada komentar:

Supported By

Share Link

IFB KJV Directory