Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 Desember 2008

Kerabat Penebus



KERABAT PENEBUS




Pada waktu tengah malam dengan terkejut terjagalah orang itu, lalu merabaBSORU019.JPG-raba ke sekelilingnya, dan ternyata ada seorang perempuan berbaring di sebelah kakinya. Bertanyalah ia: "Siapakah engkau ini?" Jawabnya: "Aku Rut, hambamu: kembangkanlah kiranya sayapmu melindungi hambamu ini, sebab engkaulah seorang kaum yang wajib menebus kami (KJV: kinsman-reedemer)." Lalu katanya: "Diberkatilah kiranya engkau oleh Tuhan, ya anakku! Sekarang engkau menunjukkan kasihmu lebih nyata lagi dari pada yang pertama kali itu, karena engkau tidak mengejar-ngejar orang-orang muda, baik yang miskin maupun yang kaya... Rut 3:8-10


Kisah ini adalah sebuah tipology yang indah mengenai penebusan. Gambaran yang sangat indah mengenai penebusan antara orang yang menebus dan yang ditebus.



Tokoh pertama adalah Boas dan ia menggambarkan Juru Selamat kita. Dalam hukum Taurat, seorang istri yang ditinggal mati oleh suaminya tanpa mempunyai anak dapat menuntut haknya yaitu menikah dengan kerabat terdekat dari suaminya. Hukum ini biasa disebut juga hukum Levirat. Boas adalah kerabat penebus Rut. Hubungan ini sangat tepat menggambarkan Yesus dengan kita, Yesus adalah kerabat kita. Itulah sebabnya Ia tidak malu menyebut mereka saudara. . . Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka . . . Itulah sebabnya, maka dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudara-Nya , supaya Ia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan yang setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa seluruh bangsa (Ibr 2:11,14,17). Yesus juga pernah berkata, "Sebab siapapun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku" (Mat 12:50).



Tokoh kedua adalah Rut dan ia menggambarkan orang-orang percaya yaitu kita. Rut tidak berdaya dan lemah, dan ini tepat menggambarkan manusia yang lemah dan tak berdaya. Rut memerlukan pertolongan dan kita pun demikian. Dan kita lihat, akhirnya Rut menjadi istri Boas. Ini merupakan gambaran yang sangat tepat mengenai Yesus dan orang-orang percaya. Akhirnya, kita akan menjadi mempelai wanita Kristus.



Tentu semua kebahagiaan yang Rut dapatkan perlu ada langkah-langkah yang harus dia ambil sebelumnya. Tentu pertama-tama untuk mendapatkan hak Levirat itu harus ada kesediaan di pihak Rut. Bisa saja Rut menolak untuk menikah lagi dengan kerabat terdekat almarhum suaminya. Sama seperti kita, jalan keselamatan sudah tersedia dan yang perlu hanyalah kita mau menerimanya atau tidak. Rut juga harus dalam kondisi tertentu untuk bertemu Boas. Maka sekarang bukankah Boas, yang pengerja-pengerjanya perempuan telah kautemani itu, adalah sanak kita? Dia pada malam ini menampi jelai di tempat pengirikan, maka mandilah dan beruraplah, pakailah pakaian bagusmu dan pergilah ke tempat pengirikan itu (Rut 3:2-3). Rut disuruh oleh Naomi untuk mandi, berurap dan memakai pakaian bagusnya jika ingin bertemu dengan Boas. Ini juga mengambarkan kita jika kita ingin bertemu dengan Kristus. Ketika kita sudah diselamatkan, kita bagaikan sudah mandi (Tit 3:5), kita juga sudah diurapi (I Yoh 2:20,27) dan kita memakai pakaian baru (Zak 3:1,3-4; Why 3:5a). Dalam Rut 3:9 menggambarkan bahwa Rut meminta pertolongan dan ingin percaya kepada Boas agar dia melindunginya. Kita juga perlu mempunyai sikap itu, kita harus menerima Tuhan sebagai Juru Selamat kita. Tanpa hal ini, kita tidak bisa mendapatkan keselamatan itu. Mungkin anda pikir anda bisa mendapatkan keuntungan dari gereja ini, seperti misalnya dengan mendengarkan khotbah hidup anda berubah ataupun mendapatkan banyak rekan untuk dijadikan rekan bisnis anda, tetapi jika anda tidak diselamatkan sebenarnya anda tidak mendapatkan hal intinya.



Mungkin kita membaca kitab Rut tidak tertulis kisah romantis di dalamnya. Tapi saya yakin di tengah-tengah cerita itu ada kisah tersebut. Pada saat Rut memungut sisa-sisa gandum di ladang Boas, Boas melihat sesosok wanita yang menarik perhatiannya. Dia bertanya kepada pengerja-pengerjanya. Kesan pertama sudah begitu terasa di dalam hati Boas. Mungkin juga mereka sempat berbincang-bincang atau bertukar pikiran pada saat istirahat. Sampai-sampai Boas menyuruh pengerja-pengerjanya supaya sengaja menyisakan bulir-bulir gandum agar Rut dapat mengambil lebih banyak lagi. Boas juga adalah saudara dekat Naomi dan mungkin Boas sekali atau dua kali pergi berkunjung ke rumah Naomi. Selama waktu berjalan, mereka saling tertarik. Mungkin juga Boas sudah menanti-nanti kapn Rut akan menuntut hak Rut kepadanya. Saat musim menuai sudah hampir selesai, muka Rut mulai murung. Naomi sebagai ibunya tahu bahwa dia mulai sedih karena mata pencahariannya akan hilang dan juga mungkin sudah tak bisa lagi bertemu dengan Boas. Naomi yang tahu akan hal ini akhirnya menyuruh Rut untuk meminta perlindungan. Dan ternyata masih ada 1 kerabat lagi yang lebih dekat (Rut 3:12-13). Boas mungkin sudah menyelidikinya terlebih dahulu dan akhirnya Boas yang menyelesaikan perkara itu. Lalu kata mertuanya itu: "Duduk sajalah menanti, anakku, sampai engkau mengetahui, bagaimana kesudahan perkara itu; sebab orang itu tidak akan berhenti, sebelum diselesaikannya perkara itu pada hari ini juga" (Rut 3:18). Yesus Juru Selamat kita juga akan menyelesikan perkara dosa kita dan kita hanya perlu menanti tanpa melakukan usaha apapun untuk keselamatan kita.



Yesus, bagaikan Boas, yang menanti engkau meminta perlindungan kepadanya atas keselamatan jiwa anda. Sudahkah anda mengambil keputusan untuk menerima Yesus Kristus sebagai Juru Selamat anda? Jika anda ingin, Tuhan yang akan membereskan dosa anda dan anda tidak perlu melakukan usaha apapun juga. Percayalah kepada Yesus seperti Rut percaya kepada Boas yang akan menyelesaikan perkaranya!


Ingatlah! Tuhan menanti anda!

Read More ..

Rabu, 17 Desember 2008

Natal



harga sebuah NATAL



Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Lukas 2:11


Ah!! Bulan Desember telah tiba. Suasana Natal di mana-mana. Silakan perhatikan di mal-mal, coba dengar di toko-toko. Saksikan semaraknya di layar kaca televisi, semua bagaikan menyerukan: Natal tiba! Kini, Natal telah tiba!


Banyak hal yang diidentikkan dengan Natal. Kalau kita melihat pohon cemara yang dihiasi, berkerlap-kerlip lampu kecil, dengan sedikit kapas penanda salju, kita memikirkan natal. Jika kita melihat boneka salju, dengan hidung wortelnya, kancing hitam sebagai mata dan dua kayu bercabang sebagai lengannya, kita memikirkan natal. Jika kita melihat seorang yang gendut, berpakaian merah, dengan janggut yang putih panjang dan buntalan menggelembung dipunggungnya, kita memikirkan natal. Padahal semua itu tidak ada hubungannya dengan Natal yang sesungguhnya.


Natal adalah waktu yang indah, demikian katanya. Natal adalah pemberian Allah bagi manusia, sebuah hadiah. Maka muncullah tradisi saling memberi hadiah, atau minimal kartu ucapan selamat. "Tuhan memberkatimu!", "Have a very merry Christmas!" "Season of glad tidings." Tetapi ada bahaya yang mengancam, bahwa dalam kesukaan perayaan, kita lupa bahwa untuk setiap hadiah pasti ada harganya.


Natal adalah hadiah Allah bagi manusia. Sungguh benar! Hadiah yang demikian berharga, "damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepadaNya." Anak Allah turun menjadi manusia, membawakan keselamatan bagi dunia. Malaikat berkata, "Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa." Dan sejak saat itu natal selalu menjadi hari kesukaan besar. Tetapi pernahkah kita merenungkan, berapa harga hadiah yang diberikan Tuhan itu?


Setiap kesukaan yang didapatkan manusia lewat natal dibayar dengan sangat mahal oleh Allah. Hari kesukaan bagi manusia itu adalah awal dari penderitaan dan penghampaan diri yang akan berakhir di atas salib. Raja di atas segala raja lahir di kandang yang hina, menjadi manusia biasa yang miskin papa. Tiada pembesar yang datang menjenguk, tiada utusan yang berlari-lari sambil berteriak "Hormat, Raja datang!" Sejak dari lahirNya, ia ditolak manusia, sehingga tak satupun tempat tersedia kecuali palungan tempat makanan binatang. Tetapi itu barulah permulaan dari perjalanan yang panjang. Natal adalah uang muka. Harga sepenuhnya Allah bayar. Ditolak, dibenci, dikhianati, dibunuh dengan siksaan yang kejam. Tapi yang paling menyakitkan, menanggung dosa seisi dunia. "Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuatNya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah." Saat Ia tergantung di atas kayu salib, 30an tahun setelah hari kelahiranNya, ia melunasi harga yang Ia mulai sejak Natal. "Sudah Selesai!" Harganya sudah selesai dibayar! Jalan ke surga sudah selesai! Hadiah untuk manusia sudah selesai! Untuk matilah Ia datang. Karena manusia telah berdosa, maka manusia harus mati. Tetapi karena kasihNya pada manusia, Ia datang menggantikannya mati di kayu salib. Itulah hadiah dari Allah. Hadiah itu mulai dibungkus saat Natal, dan diselesaikan di atas salib.


Saudara, sudahkah engkau menerima hadiah itu? Setiap manusia akan masuk neraka karena dosanya masing-masing. Tetapi Allah telah sediakan jalan untuk masuk surga melalui bertobat dan percaya pada AnakNya Yesus. Hadiah ini tidak perlu dibeli, dan tidak perlu diusahakan. Hadiah ini adalah kasih karunia, karena manusia tidak mampu mendapatkannya. Allah sudah membayar harganya. Tetapi, tidak berarti bahwa tidak ada harga yang harus anda bayar. Sederhana memang, bukan uang yang Tuhan inginkan, bukan perbuatan baik, bukan amal ibadah, bukan pula penyiksaan diri. Yang Tuhan inginkan ialah kerendahan hatimu untuk bertobat dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi, hari ini! Hanya itu! Seberapa mahalkah itu bagimu?


Kesombongan dan harga diri seringkali merupakan sesuatu yang paling sulit dilepas oleh manusia. Tetapi camkanlah! Saat Natal pertama, Allah sudah membayar harga yang termahal, AnakNya yang tunggal. Dan kita? Hanya perlu suatu keputusan untuk bertobat, jadikan Yesus Tuhan dan Juruselamat.

Read More ..

Selasa, 25 November 2008

Bangkit dari Keterpurukan


Bangkit dari keterpurukan




Lalu Yesus ditangkap dan dibawa dari tempat itu. Ia digiring ke rumah Imam Besar. Dan Petrus mengikut dari jauh. Di tengah-tengah halaman rumah itu orang memasang api dan mereka duduk mengelilinginya. Petrus juga duduk di tengah-tengah mereka. Seorang hamba perempuan melihat dia duduk dekat api; ia mengamat-amatinya, lalu berkata: "Juga orang ini bersama-sama dengan Dia." Tetapi Petrus menyangkal, katanya: "Bukan, aku tidak kenal Dia!" Tidak berapa lama kemudian seorang lain melihat dia lalu berkata: "Engkau juga seorang dari mereka!" Tetapi Petrus berkata: "Bukan, aku tidak!" Dan kira-kira sejam kemudian seorang lain berkata dengan tegas: "Sungguh, orang ini juga bersama-sama dengan Dia, sebab ia juga orang Galilea." Tetapi Petrus berkata: "Bukan, aku tidak tahu apa yang engkau katakan." Seketika itu juga, sementara ia berkata, berkokoklah ayam. Lalu berpalinglah Tuhan memandang Petrus. Maka berpalinglah Petrus bahwa Tuhan telah berkata kepadanya: "Sebelum ayam berkokok pada hari ini, engkau telah tiga kali menyangkal Aku." Lalu ia pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya. Luk 22:54-62



Mengapa orang seperti Petrus, rasul yang dipakai oleh Tuhan dengan sangat luar biasa, dapat mengalami iman yang sedemikian terpuruk? Petrus yang berkata: Tuhan, aku bersedia masuk penjara dan mati bersama-sama dengan Engkau! (Luk 22:33), tetapi mengapa masih tetap dapat menyangkal Tuhan? Biar dia seorang rasul atau pengkhotbah besar atau penginjil, dia masih tetap manusia. Benarlah perkataan dalam Rm 3:10: Tidak ada yang benar, seorang pun tidak. Petrus memang melakukan kesalahan, namun dia tidak tetap dalam kesalahannya itu, melainkan dia bangkit dari kesalahannya. Kita melihat minimal ada 3 hal yang menyebabkan dia dapat bangkit kembali.


Pertama, Petrus ingat akan perkataan Tuhan Yesus (ayat 60-61). Petrus menyangkal Tuhan Yesus sebanyak 3 kali. Pada saat itu, ia lupa akan perkataan Tuhan. Pada saat dia menyangkal Tuhan ketiga kalinya dan Tuhan menatapnya, Ia sadar bahwa ia telah jatuh di titik terendah dalam imannya. Ia telah salah. Namun ketika itu juga, ia ingat akan perkataan Tuhan Yesus. Inilah titik balik dari imannya. Ia memang jatuh di titik terendah, namun dia tidak membiarkan dirinya tetap di dalam titik itu, dia berbalik. Demikian juga dengan kita. Pada saat kita melakukan dosa, kita lupa akan Firman Tuhan. Namun kita harus sama seperti Petrus, kita tidak boleh tinggal di dalam keterpurukan kita, kita harus bangkit, kita harus ingat kembali Firman Tuhan. Dalam II Tim 3:16, Firman Tuhan berfungsi untuk mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan, mendidik orang.


Kita harus senantiasa mengingat Firman Tuhan (Mzm 119:11) karena itulah yang menjaga kita agar kita tidak berbuat salah. Apa yang membuat Petrus ingat akan perkataan Tuhan Yesus? Yaitu ketika Yesus menatapnya dan melihat hatinya yang paling dalam. Ketika itu, Petrus tahu bahwa dia telah salah. Dia merasa bahwa dia adalah orang hina yang penuh dengan dosa. Penulis jadi teringat akan syair-syair lagu Sekolah Minggu: "Mata Tuhan melihat apa yang kita perbuat, apa yang baik maupun yang jahat. Oleh sebab itulah jangan berbuat jahat. Ingat! Tuhan melihat!" Allah kita memantau kita di mana pun anda berada dan Dia sekarang sedang menatap anda dan melihat hatimu yang paling dalam, apakah anda sadar akan dosa-dosa anda? Maukah anda seperti Petrus yang tersungkur di depan kaki Yesus?


Kedua, dia menyesal. Lalu ia pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya (ayat 62). Ini adalah ciri-ciri orang yang menyesali kesalahan-kesalahannya. Ia sadar bahwa ia telah melakukan dosa, dia menyesal dan bertobat. Jika kita menyesal tanpa bertobat maka kita akan menjadi seperti Yudas Iskariot. Yudas memang menyesal setelah menjual Yesus dengan harga 30 keping perak. Ia ingin mengembalikan uang itu dan membatalkan transaksi tetapi ditolak oleh para imam. Ia kemudian keluar dan gantung diri. Sungguh tragis, Yudas hanya menyesal tetapi dia tidak bertobat. Jika dia bertobat, dia tidak mungkin melakukan hal yang seperti itu.


Ketiga, setelah itu dia menguatkan saudara-saudaranya (Luk 22:32). Kata 'kuatkanlah' dalam bahasa Yunani strizon yang bisa juga berarti membuat berdiri teguh. Petrus memang pernah jatuh dan dia telah bangkit lagi. Namun semua usahanya tidak sampai di sana, Tuhan menyuruhnya untuk menguatkan saudara-saudaranya yang lain setelah dia mengalami kejatuhan. Biasanya seseorang yang telah jatuh dalam dosa tertentu dan dia dapat bangkit lagi, dia akan semakin dewasa dan memberitahukan teman seiman untuk tidak mengulangi dosa yang sama. Dan menurut catatan, dia adalah seorang rasul terkemuka di antara rasul yang lainnya. Demikian juga dengan kita, kita mungkin pernah jatuh ke dalam dosa dan kita berhasil bangkit dari kesalahan kita, namun Allah tidak menyuruh kita untuk berhenti sampai di sana, Tuhan menyuruh kita untuk menguatkan saudara-saudara kita yang lainnya. Memang kadang-kadang Tuhan pakai kejatuhan kita untuk dijadikan batu loncatan agar kita dapat bertumbuh.


Maukah anda menjadi seorang "Petrus" yang berani mengakui dirinya telah berbuat salah, memandang kepada Yesus yang tahu isi hati kita, menyesali dosa kita, bertobat dari dosa-dosa kita dan setelah itu kita menguatkan saudara-saudara kita yang lainnya?

Read More ..

Perjalanan Hidup Seorang yang Berkenan di Hati Tuhan


Perjalanan Hidup Seorang yang Berkenan di Hati Tuhan



Kata Samuel kepada Saul: "Perbuatanmu itu bodoh. Engkau tidak mengikuti perintah TUHAN, Allahmu, yang diperintahkan-Nya kepadamu; sebab sedianya TUHAN mengokohkan kerajaanmu atas orang Israel untuk selama-lamanya. Tetapi sekarang kerajaanmu tidak akan tetap. TUHAN telah memilih seorang yang berkenan di hati-Nya dan TUHAN telah menunjuk dia menjadi raja atas umat-Nya, karena engkau tidak mengikuti apa yang diperintahkan TUHAN kepadamu."


I Sam 13:13-14




daud.jpg


Daud merupakan salah satu dari sekian banyak tokoh Alkitab yang sangat terkenal, dari anak Sekolah Minggu hingga orang dewasa tahu siapa itu Daud. Dia adalah raja kedua Israel sesudah Saul. Dia pernah mengalahkan Goliat. Daud adalah tokoh yang paling panjang kisahnya dalam Alkitab (hampir 2 kitab: I Sam 16-II Sam 24 dan beberapa pasal di awal kitab I Raj dan sebagian kitab Mazmur adalah hasil karyanya). Kisah hidupnya dibeberkan dan diperlihatkan kepada kita. Dan Tuhan sepertinya ingin berkata kepada kita, "Inilah orang yang berkenan kepada-Ku. Dialah orang yang melaksanakan perintah-Ku dengan tulus dan rendah hati."


Daud memang adalah orang yang berkenan di hadapan Tuhan namun itu tidak berarti hidupnya selalu rata dan tidak ada rintangan. Bahkan kesulitan hidupnya yang paling besar muncul setelah dia diurapi sebagai raja, tepatnya saat Tuhan mengucapkan kata-kata di samping. Dia harus menjadi buronan raja selama bertahun-tahun. Dia harus hidup dengan menggembara dan tak menentu hidupnya. Sesudah menjadi raja pun dia harus mengalami beberapa pemberontakan. Namun dia tidak menjadi putus asa dan meninggalkan Tuhan, malah sebaliknya dia melihat semua kejadian itu adalah supaya dia makin dekat kepada Tuhan, supaya dia makin bergantung dan bersandar kepada-Nya. Terkadang Tuhan mengizinkan kesulitan menghampiri hidup kita, rasanya tidak ada jalan keluar dari masalah itu, namun itu sebenarnya Tuhan izinkan agar kita tidak bersandar pada kemampuan kita saja tetapi lebih bersandar kepada-Nya. Di balik kehebatan Daud ada seorang yang menopangnya yaitu Tuhan. Jika dia mengalami suatu masalah dia selalu berdoa meminta pertolongan kepada Tuhan. Itu terlihat dari curahan hatinya yang tertuang dalam kitab Mazmur yang sebagian besar ditulis olehnya.



Saat Daud diurapi, semua orang mungkin tidak akan menyangka dia yang dipilih oleh Tuhan untuk menjadi raja. Dari segi umur dan tubuh, saudara-saudara Daud lebih besar dari Daud. Namun Tuhan berkata: "Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati" (I Sam 16 : 7b).


Tuhan juga tidak melihat keadaan tubuh kita melainkan hati kita. Tuhan sayang semua orang, baik yang kaya maupun yang miskin, baik yang muda maupun tua, baik yang cacat fisik maupun yang sehat. Tuhan melihat hati kita. Tuhan hanya melihat ketulusan hati kita. Daud mungkin saat itu masih seperti anak-anak yang belum bisa berperang dan memimpin rakyat namun Tuhan melihat hatinya begitu ingin melayani-Nya dan menurut Tuhan itulah modal utama dalam melayani Tuhan. Demikian juga kita, mungkin tampak luar kita tidak hebat tetapi jika kita memiliki hati untuk melayani Tuhan dan kita mau bersandar pada-Nya selalu niscaya Tuhan akan membentuk kita seperti Dia membentuk Daud sedemikian rupa sehingga dia dapat menjadi raja yang sangat berhasil di mata Tuhan maupun di mata rakyat.



Sejak Daud diurapi, kehidupan Daud tidak sama seperti dulu lagi. Dia bahkan tidak menjalani kehidupan yang penuh dengan ketenangan dan kedamaian. Dia harus menjadi bahan amarah Saul. Namun dia menyadari bahwa semuanya ini Tuhan izinkan dalam hidupnya untuk suatu tujuan. Allah membentuknya agar Daud dapat menjadi raja yang mengasihi-Nya dan tentunya mengasihi rakyatnya. Setidaknya ada 3 aspek yang Tuhan ingin bentuk dari diri Daud dan juga dalam diri kita.





Aspek penyerahan diri



Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak;



Mzm 37:5



Daud menyerahkan hidupnya kepada Tuhan. Bahkan melalui mazmurnya ini dia ingin mengajak para pembaca untuk menyerahkan hidup mereka juga kepada Tuhan. Kata-kata ini bukan diucapkan oleh orang yang hidup penuh dengan kemewahan dan kelimpahan di istana, melainkan orang yang pernah mengalami pahit getirnya hidup di bawah bayang-bayang maut. Saat dia dikejar-kejar, banyak orang yang berpihak kepada Saul ingin menyerahkannya dan itu membuat Daud ketakutan. Dalam ketakutannya itulah dia bersandar kepada Tuhan dan berdoa. Setiap Saul ingin membunuh Daud Tuhan selalu menggagalkan rencananya.


Patutlah Daud dikatakan sebagai orang yang berkenan di hati Allah. Jika kita ingin berkenan kepada Allah, ikutilah teladan Daud dalam aspek penyerahan diri ini. Dia tidak takut akan tuntunan Tuhan. Bahkan dia berkata dalam Mzm 23, "Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. ... Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku." Yang Daud yakini hanyalah segala jalan hidupnya menjadi berarti jika ia bersama Tuhan.




Aspek ketaatan



Daud pernah dua kali memiliki kesempatan untuk membunuh raja Saul. Alasan Daud tidak membunuh Saul karena Saul adalah orang yang diurapi Tuhan. Dia lebih memilih menunggu waktu Tuhan daripada melakukan semuanya memakai kekuatannya sendiri. Tuhan yang telah mengurapinya menjadi raja maka Tuhan sendirilah yang akan mengangkatnya menjadi raja menggantikan Saul.


Berbeda dengan Abraham, Abraham tidak menunggu waktu Tuhan dan hasilnya adalah permusuhan abadi antara keturunan Ismael dan Ishak. Daud tidak segegabah Abraham, dia tidak ingin menghasilkan efek yang negatif dari langkah yang dia ambil sendiri tanpa penyertaan Tuhan.


Betapa teladan yang Daud berikan kepada kita. Kita terkadang tidak sabar menunggu waktu Tuhan yang pastinya adalah waktu yang tepat dan terbaik, dan kita lebih memilih untuk melakukannya sendiri.




Aspek tanggung jawab



Daud dituntut memiliki tanggung jawab yang besar jika nanti dia sudah menjadi raja. Tuhan berikan dia pengalaman yang berharga yang mungkin tak akan dia lupakan sepanjang hidupnya. Dia menggembara bersama 400 orang yang mengalami kesusahan, memiliki hutang dan yang sakit hati (I Sam 22:2). Tuhan memberikan Daud latihan menghadapi persoalan 400 orang yang mengikutinya sambil menjalani latihan militer yang juga disusun oleh Tuhan. Sebelum dia mampu memimpin rakyat yang banyak, dia diajar dahulu bagaimana memimpin sekelompok kecil orang.


Demikian juga dengan kita. Yesus Kristus pernah berkata: "Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar" (Luk 16:10). Allah tidak pernah memberikan kita tanggung jawab yang langsung besar tapi Dia melatih kita dari bawah. Masing-masing dari kita memiliki tanggung jawab yang berbeda-beda namun yang Tuhan tuntut hanyalah kesetiaan.

Read More ..

Kamis, 20 November 2008

PEMBALASAN ADALAH HAK TUHAN



PEMBALASAN ADALAH HAK TUHAN






Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang! Sedapat-dapatnya, kalau hal itu tergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang! Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan. Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya. Rom 12 : 17-20







Kita sering mendengar berita kejahatan yang terjadi di mana-mana, rasanya kita geram mendengar kasus pembunuhan, perampokan, penipuan atau pemerkosaan. Kita akan lebih geram lagi kalau kita dengar orang-orang yang melakukan kejahatan itu tidak ditangkap dan dibiarkan begitu saja, kalaupun ditangkap rasanya hukuman yang diterimanya kurang sebanding dengan kejahatan yang mereka lakukan. Beberapa pertanyaan mungkin mulai bermunculan, seperti: Apakah keadilan benar-benar bisa ditegakkan? Apakah Allah tidak campur tangan melihat anak-anak-Nya menderita karena kejahatan yang merajalela ini? Mengapa Tuhan mengizinkan semuanya ini terjadi? Bolehkah kita menghukum mereka dengan cara kita sendiri?


Allah kita sungguh adalah Allah yang Maha Tahu dan Bijaksana. Kalau Allah tidak menggerakkan hati manusia untuk membangun sebuah pemerintahan di tiap-tiap negara, mungkin sekarang akan berlaku 'hukum rimba,' siapa yang kuat maka dia yang menang. Pemerintah yang Tuhan dirikan fungsinya untuk menghukum masyarakatnya bila mereka menjahati orang lain. Faktanya, banyak juga pemerintah yang tidak melaksanakan tugas-tugasnya dengan baik. Apakah kita boleh mengambil alih peran pemerintah yang sudah Tuhan tetapkan?


Allah memberikan kita Firman-Nya agar kita melakukannya sesuai dengan kehendak-Nya. Allah menyuruh kita agar jangan membalas kejahatan dengan kejahatan, mengapa? Sebab jika kita yang melakukannya, berarti kita sama seperti salah satu penjahat yang ada di dunia ini. Dan Allah juga ingin kita menjadi terang di dunia ini yang menggambarkan Allah yang Maha Kasih. Kita mengampuni orang yang bersalah kepada kita sama seperti Allah mengampuni seluruh dosa yang dilakukan oleh umat manusia terhadap-Nya. Kita harus membawa berita ini juga dalam diri kita yang ditunjukkan oleh perbuatan kita.


Kalau begitu tidak adilkah Tuhan karena tidak menghukum manusia setimpal dengan perbuatannya? Manusia memang suka sesuatu yang serba instant, manusia ingin orang jahat dihukum sekarang juga. Namun jikalau begitu kita tidak mungkin ada di dunia ini. Kalau Allah memegang prinsip itu maka dia pasti langsung membunuh Adam dan Hawa setelah mereka memakan buah pengetahuan yang baik dan yang jahat. Tuhan tidak langsung menghukum mereka karena Tuhan ingin memberikan kesempatan kepada mereka agar mereka dapat mengenal kasih Allah dan bertobat. Kalaupun tidak bertobat, Tuhan sudah menyediakan satu Penghakiman Terakhir, dimana semua kejahatan yang belum dijatuhi hukuman pasti akan terkena hukumannya. Dan ini lebih mengerikan lagi karena hukumannya bukan sementara tetapi kekal.

Read More ..

Rabu, 12 November 2008

BILA GARIS DITARIK, ANDA DI SEBELAH MANA?

Peperangan antara dua negara biasanya memiliki garis pemisah yang jelas dan dengan prajurit yang memakai seragam yang berbeda. Masing-masing prajurit tahu siapa lawan dan siapa kawan. Hampir tidak mungkin terjadi salah tembak atau salah mengidentifikasikan musuh.

Lain dengan perang saudara dalam satu negara (civil war) dimana biasanya tidak jelas wilayahnya dan para pejuang tidak mengenakan seragam tertentu. Bahkan dalam kondisi kalut, mereka tidak tahu yang mana kawan dan yang mana lawan.

Menjadi Prajurit Kristus

Sementara itu Alkitab memberitahukan kita bahwa sejak kita diselamatkan maka pada saat itu juga kita memasuki arena peperangan rohani (II Tim 2:3). Musuh kita bukan manusia melainkan roh-roh jahat yang bekerja dibalik manusia yang mempergunakannya (Ef 6:11-12). Tentu kita tidak memerangi manusianya melainkan mengasihinya.Kita hanya ingin memerangi paham dan konsep fasik (ungodly) yang ditanamkan oleh musuh Theos ke dalam pikiran mereka.

Senjata kita dalam memerangi roh-roh jahat bukanlah senjata yang terbuat dari besi atau materi melainkan senjata rohani (Ef 6:13-18). Senjata rohani tidak akan melukai tubuh jasmani. Oleh sebab itu peperangan rohani yang diperintahkan Tuhan dalam Alkitab bukan sebuah tindakan anarkis.

Mengapa Yudaisme Anarkis ?

Yudaisme dibangun dari satu orang yang bernama Abraham. Theos mengadakan perjanjian dengan Abraham, bahwa Ia akan menjadi Theos bagi seluruh keturunannya yang adalah umat Theos. Perjanjian ini dikuatkan dengan tanda darah, yaitu sunat. Oleh sebab itu setiap keturunan Abraham yang tetap memelihara janji ini akan menyunatkan anak lelakinya, dan kalau ia tidak melakukannya maka itu berarti ia mengingkari janji dan ia patut dibunuh (Kel 4:24-26).

Dari satu keturunan Abraham Theos membangun satu bangsa khusus untuk menghadirkan Juruselamat yang dijanjikan-Nya kepada umat manusia. Khusus untuk bangsa ini, Theos tidak mau menemukan satu orangpun yang tidak beribadah kepadaNya, atau mengingkari janji-Nya.

Pada awal terbentuknya bangsa ini, Theos sendiri adalah raja mereka. Namun kemudian mereka meminta seorang raja, sehingga diangkatlah Saul untuk menjadi raja. Karena Theos adalah raja mereka, maka negara dan agama adalah satu. Umat agama adalah warga negara, dan warga negara adalah umat agama. Bersatunya agama dengan negara ini disebut Sacral Society. Dalam sistem ini, yang menentang agama dilihat sama dengan menentang negara, dan yang menentang negara dilihat sebagai menentang agama. Seluruh warga negara mempercayai satu agama, dan jika ada yang berubah maka ia dibunuh.

Apakah bangsa lain dan agama lain bisa memakai sistem ini ? Tentu tidak bisa! Kecuali bangsa itu juga dibangun dari satu orang seperti Theos membangun bangsa Israel dari Abraham. Bangsa lain ketika berdiri telah dalam kondisi plural. Misalnya Indonesia yang sejak menjadi bangsa pada tanggal 17 Agustus 1945 telah terdiri dari penduduk yang berbagai agama, bukan dibangun dari satu keturunan dengan satu iman.

Instruksi Theos kepada pemimpin Yahudi ialah bunuh setiap orang yang membangkang terhadap perjanjian dengan Theos. Mengapa demikian kejam ? Jawabnya, Theos sedang memakai bangsa Israel yang dibangun-Nya untuk menurunkan Juruselamat bagi umat manusia. Agar bangsa Israel tidak terkontaminasi oleh bangsa-bangsa yang telah lama menjadi penyembah berhala, Ia harus memberlakukan hukum yang sangat keras itu.

Hukum yang sangat keras itu dimaksudkan juga agar ibadah simbolik yang dilakukan bangsa Israel tidak terkontaminasi oleh berbagai ibadah penyembahan berhala. Sejak manusia jatuh ke dalam dosa, Theos segera menjanjikan usaha penyelamatan. Ia akan mengirimkan Penyelamat yang akan menanggung hukuman dosa manusia. Sebelum sang Penyelamat tiba, Ia memerintahkan manusia melakukan upacara simbolik penyelamatan dengan MENYEMBELIH DOMBA di atas mezbah. Upacara ini menyimbolkan cara penyelamatan Theos yang akan menghukum dosa dengan kematian, dan domba menyimbolkan Penyelamat yang akan dihukum mati.

Upacara simbolik ini kemudian diteguhkan dalam upacara yang lebih lengkap dalam Bait Theos, dan dijaga oleh bangsa Israel. Sementara itu bangsa-bangsa lain terhanyut dalam penyembahan iblis. Hanya segelintir bangsa non Yahudi yang menyadari bahwa Theos bangsa Yahudi adalah Theos yang benar dan mereka juga pergi keYerusalem untuk beribadah (Kis 8:26 dst).

Jadi tindakan Tuhan untuk mendirikan Sacral Society dengan resiko menjalankan hukuman yang keras bagi pelanggarnya adalah demi agar jalan keselamatan yang direncanakan tidak akan terganggu dan upacara simbolik yang berfungsi membentuk konsep manusia tentang KORBAN DOSA tidak akan terkontaminasi.

Bangsa Lain Boleh Meniru ?

Bangsa lain tidak memiliki alasan untuk meniru Sacral Society Yudaisme karena tidak ada kebutuhan untuk itu. Di dunia ini tidak ada satu bangsa pun yang didirikan melalui keturunan satu orang yang berjanji dengan Theos bahwa seluruh keturunannya akan menjadi umat Theos. Tindakan untuk menciptakan Sacral Society pasti akan menghasilkan tindakan anarkis dan pelanggaran hak asasi manusia.

Agama yang konsep teologisnya adalah sistem Sacral Society akan berusaha mati-matian menyatukan agamanya dengan negara. Dan setelah agama tersebut disatukan dengan negara, maka langkah selanjutnya adalah MENGANIAYA umat agama lain. Ini adalah teori yang telah terbukti dalam perjalanan sejarah. Yudaisme adalah contoh yang paling kuno, dan Katolik di negara mayoritas Katolik, serta Islam di Iran, Afganistan adalah contoh nyata sebuah usaha mewujudkan Sacral Society di abad modern.

Lalu Kekristenan Alkitabiah ?

Kekristenan Alkitabiah mengerti bahwa praktek Sacral Society yang diadakan Theos akan dihentikan-Nya pada saat Mesias yang dijanjikan tiba. Ketika Mesias tiba, maka upacara simbolik yang mengambarkan-Nya tidak dibutuhkan lagi, maka Sacral Society yang berfungsi untuk menjaganya pun tidak dibutuhkan lagi (Luk 16:16). Ketika hakekat dari keselamatan itu tiba, ibadah dalam upacara rituil simbolik dihentikan dan diganti dengan ibadah di dalam roh dan kebenaran (Yoh 4:23). Ibadah di dalam roh dan kebenaran tidak terikat pada CARA, TEMPAT, WAKTU. Ibadah di dalam roh artinya tidak bersifat jasmaniah melainkan rohaniah, dan dalam kebenaran artinya dengan pengertian dan bukan ikut-ikutan seperti ibadah simbolik. Dalam ibadah roh dan kebenaran, agama dan negara HARUS dipisahkan karena sifat ibadahnya sukarela bukan yang diselenggarakan oleh negara dengan cara paksa. Gereja atau kelompok kekristenan yang tidak paham akan kebenaran ini PASTI akan terjebak dalam usaha mencoba mendirikan Sacral Society seperti Katolik di negara yang berpenduduk mayoritas Katolik, demikian juga dengan Protestan di daerah tertentu. Telah tercatat dalam sejarah dan tidak bisa dihapus lagi bahwa Bapak-bapak Reformator membunuh orang demi membentuk Sacral Society di negara kekuasaan mereka. Di Amerika terdapat banyak monumen penganiayaan yang dilancarkan gereja Episcopal terhadap Anna-Baptist. Belakangan ini Karen Amstrong menulis sebuah buku, dan diterjemahkan dengan judul Berperang Demi Tuhan, (Fundamentalisme dalam Islam, Kristen, dan Yahudi) telah membahas tentang kekristenan dengan gegabah dan sama sekali tidak berpengertian. Jelas sekali Amstrong tidak mengerti tentang sistem Sacral Society dan sembarangan menuduh dengan tanpa pengertian yang benar.

Kekristenan yang melakukan kekerasan (anarkis) itu bukan dari kalangan Fundamentalis melainkan dari kelompok yang berusaha mendirikan sistem Sacral Society di wilayah dimana mereka mayoritas. Sedangkan kelompok Fundamentalis adalah kelompok yang tidak membalas kekerasan dengan kekerasan melainkan yang siap menyodorkan pipi kiri sesudah ditampar pipi kanannya. Kelihatan sekali bahwa si penulis terobsesi oleh Fundamentalis agama tertentu yang telah bertindak anarkis dan tanpa mempelajari dengan sungguh, secara ceroboh melabel Fundamentalis Kristen dengan label yang sama. Atau sangat mungkin Karen Amstrong memiliki maksud tersembunyi untuk merusak nama baik Kristen Fundamental yang harum dengan mensejajarkannnya dengan kelompok Fundamentalis lain.

Setelah Tuhan menutup sistem Sacral Society dan menggantikannya dengan sistem Gereja Lokal (penyembahan dalam roh dan kebenaran), paradigma baru baik dalam ibadah maupun sikap hidup segera diterapkan. Ibadah rituil simbolik ditutup dan ibadah di dalam roh dan kebenaran dimulai. Kesucian yang dituntut bukan lagi kesucian jasmani melainkan kesucian hati. Dengan paradigma baru ini tidak ada kepentingan untuk mengkristenkan orang secara jasmani karena tidak ada gunanya sama sekali. Orang bersangkutan harus percaya dengan hati dan akal budi, bukan sekedar terdaftar sebagai orang Kristen atau melakukan ibadah lahiriah. Itulah sebabnya tidak ada gunanya memaksa orang menjadi Kristen karena yang penting itu bukan badannnya atau pengakuan formalnya, melainkan sikap hatinya. Sekalipun yang bersangkutan berhasil dipaksa, diancam, menjadi orang Kristen, namun jika hatinya tidak menerima, semua itu tidak ada artinya.

Kristen Fundamentalis faham sekali KEBENARAN KRISTEN YANG PALING FUNDAMENTAL ini sehingga tidak mungkin bagi Kristen Fundamental untuk melakukan PERANG DEMI TUHAN atau AGAMA. Semakin fundamental suatu kelompok kekristenan , mereka akan semakin menekankan KEKUDUSAN HATI sehingga TIDAK MUNGKIN mereka akan melakukan tindakan anarkis apalagi melakukan perang fisik. Sekali mereka melakukan tindakan anarkis maka mereka bukan fundamentalis Kristen lagi melainkan fundamentalis agama lain yang memakai nama Kristen. Kelompok yang mungkin melakukan hal ini ialah umat agama yang getol berjuang untuk membangun sebuah Sacral Society atau yang mempromosikan ibadah lahiriah dan yang berusaha menambah KUANTITAS umat secara lahiriah.

Taktik Menuduh & Merangkul

Banyak orang Kristen tidak tahu bahwa salah satu target utama anti-Kristus di akhir zaman ini ialah mewujudkan satu pemerintahan dunia (one world government), satu ekonomi dunia (one world economy), dan satu agama dunia (one world religion). Kalau kita panjang umur, maka kita pasti akan menyaksikan tergenapinya Wahyu 13:11-18, terutama mereka yang tidak terangkat pada saat rapture.

Tujuan anti-Kristus menyatukan semua aspek tersebut diatas ialah agar di tangannya terdapat kuasa untuk memaksa setiap orang menyembah kepadanya. Siapapun yang menolak menyembahnya pasti akan mengalami kesulitan karena kuasa politik, ekonomi, dan agama ada di tangannya. Dengan disatukan ke bawah satu atau beberapa orang pimpinan, akan memudahkannya memerintah mereka. Sebaliknya jika masing-masing agama berdiri sendiri tentu akan sangat menyulitkannya.

Demikian juga jika semua gereja disatukan ke bawah satu organisasi maka akan sangat memudahkannya menyesatkannya atau memerintahkannya bersatu dengan agama lain, sebaliknya jika masing-masing berdiri sendiri secara organisasi maka akan sangat menyulitkannya.

Apakah yang diusahakan anti-Kristus dalam rangka menyatukan seluruh kekristenan ke dalam satu organisasi ? Jawabnya: dengan menghembuskan DOKTRIN GEREJA UNIVERSAL (Am) yang percaya bahwa tubuh Kristus itu satu dan terdiri dari semua orang Kristen seluruh dunia. Dengan konsep ini maka gereja lokal yang tidak mau disatukan akan dinilai sebagai jahat atau memecah-mecah tubuh Kristus. Ketika pemimpin gereja atau orang Kristen yang tidak mengerti kebenaran dituduh demikian maka mereka akan grogi dan cepat-cepat menyatukan gerejanya ke dalam organisasi persatuan, persekutuan, sinode, dan lain sebagainya.

Pembaca yang saya kasihi, kelihatannya kebenaran ini hanya bisa dipahami oleh orang Kristen lahir baru. Kalau anda tidak bisa faham tolong periksa hati anda. Kelompok Kristen Fundamental bukan hanya bisa memahami bahkan sanggup melihat gerakan anti-Kristus dengan jelas melalui terang firman Tuhan. Sejak reformasi, Ignatius Loyola mendirikan ordo Jesuit dengan agenda utama membawa kembali "saudara" yang memisahkan diri. Kini, tahulah anda bahwa gereja Katolik telah berhasil membawa kembali Gereja Anglikan, Orthodox Timur, Orthodox Yunani, dan berbagai denominasi Protestan juga sudah siap bergabung ?

Femomena yang terjadi tersebut telah membuat kita bertanya, "Mengapakah Marthin Luther, Calvin dan teman-temannya keluar dari Katolik ? Jawabannya, karena gereja Katolik telah menyimpang dari kebenaran. Lalu, mengapakah sekarang gereja mereka mau masuk kembali ? Apakah gereja Katolik sudah berubah atau bertobat ? Sama sekali tidak! Gereja Katolik tidak pernah menyatakan bahwa mereka telah bertobat. Apa yang mereka ajarkan dulu tetap mereka pertahankan hingga sekarang.

Bagi kaum Fundamentalis firman Tuhan yang berkata bahwa terang dengan gelap tidak bisa bersatu (II Kor 6:14) adalah petunjuk yang sangat jelas. Dan yang lebih penting lagi ialah mengerti bahwa doktrin gereja yang alkitabiah adalah DOKTRIN GEREJA LOKAL yang percaya bahwa tiap-tiap gereja lokal adalah tubuh Tuhan Yesus (Ef 1:23) bukan seluruh kekristenan. Memahami akan kebenaran ini akan menjadikan orang Kristen berbahagia dengan gereja lokalnya yang independen dan alkitabiah. Kalau independen namun tidak alkitabiah, juga bukan yang benar. Tiap-tiap gereja lokal berdiri sendiri sehingga jika anti-Kristus bermaksud menyesatkan seribu gereja maka ia harus menyesatkan seribu gembala jemaat. Sebaliknya jika disatukan maka cukup baginya untuk menyesatkan satu atau beberapa pemimpin puncaknya.

Di dalam usahanya untuk menyatukan gereja-gereja, baik ke dalam persekutuan atau sinode sebagai pemanasan atau sebagai tindakan pengkondisian, ia pasti akan MELARANG atau memusuhi tindakan pengajaran doktrin yang memperjelas perbedaan antara satu gereja dengan dengan gereja lain. Ia tahu persis jika doktrin yang benar diajarkan maka ia akan menghadapi kesulitan untuk menyatukan mereka yang salah dengan yang benar (mengaduk tepung tiga sukat dengan ragi, Mat 13:33).

Pembaca pasti sudah sering mendengar slogan "doktrin menceraikan, kasih menyatukan." Atau istilah "interdenominasi", bahkan sekarang bukan inter melainkan no-denominasi. Sesungguhnya baik inter maupun no yang terpenting ialah memahami doktrin yang benar. Ketika doktrin yang alkitabiah dipelajari, maka akan terlihat jelas pengajaran gereja yang alkitabiah dan gereja yang tidak alktabiah.

Apakah Fundamentalis Tidak Toleran

Kelihatannnya ada kerancuan pemahaman antara toleran dan kompromi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, TOLERAN artinya: bersikap menenggang (membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, kepercayaan) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri. Sedangkan KOMPROMI artinya persetujuan dengan jalan damai atau saling mengurangi tuntutan. Arti yang diberikan dalam kamus besar tersebut kelihatannya sudah tepat.

Orang Kristen Fundamental adalah orang yang sangat toleran namun tidak rela berkompromi. Demikian seharusnya sikap setiap orang Kristen. Kita tidak mungkin mengurangi tuntutan kita dalam kebenaran yang kita wartakan. Tetapi tidak pernah akan terjadi bahkan tidak pernah ada niat untuk mengganggu atau memusuhi orang yang berkeyakinan lain. Tidak pernah bahkan tidak boleh ada di dalam benak seorang Kristen fundamental untuk menjahati orang yang berkeyakinan lain. Termasuk tidak berniat mengganggu orang dengan pengeras suara (loud speaker) yang dipasang di luar gedung.

Memberitahu kebenaran yang kita tahu melalui media tulis, media suara (radio), dan media gambar (video/TV) itu bukan tindakan tidak toleran, karena yang bersangkutan bisa tidak membacanya, tidak mendengarnya dan tidak melihatnya. Tindakan demikian adalah ekspresi dari keyakinan Kristen Fundamental bahwa keselamatan hanya ada di dalam Yesus Kristus, dan Alkitab adalah satu-satunya kebenaran dari Theos. Kristen Fundamental tidak pernah memaksa orang percaya kebenaran yang diyakininya melainkan hanya sebatas memberitakannya. Tentu bukan hanya memberitakan sesuatu yang mereka yakini benar melainkan juga termasuk menyatakan sesuatu yang mereka yakini salah.

Berita Injil yang lengkap adalah berita yang positif dan negatif. Kalau seseoarng mempercayainya maka ia akan masuk Sorga namun jika tidak maka akan masuk Neraka. Seandainya beritanya adalah kalau percaya maka akan masuk Sorga tanpa memberitakan bahwa kalau tidak percaya maka akan masuk Neraka, maka itu bukan Injil yang utuh. Memang berita negatifnya tidak enak didengar, dan itu sudah kita ketahui sejak Injil pertama kali diberitakan. Yohanes Pembaptis, pemberita Injil pertama, telah membuat banyak pihak sakit hati dan hasilnya ialah kepalanya dipenggal. Tetapi jika Injil tanpa aspek negatifnya maka ia akan hanya bagaikan berita undangan makan kalau yang datang akan tambah kenyang tetapi jika tidak datang juga tidak apa-apa, paling-paling makan sayur sisa yang belum basi di rumah.

Iblis berusaha agar orang Kristen sendri bingung membedakan antara sikap TOLERAN dan KOMPROMI sehingga takut dinilai tidak toleran maka berkompromi sehingga mengurangi kebenaran Alkitab yang seharusnya tidak boleh terjadi. Sekali kebenaran Alkitab di-discount nilainya, maka ia sudah bagaikan garam yang kehilangan rasa asinnya. Ia tidak berfungsi lagi, ia layak dibuang dan diinjak-injak orang.

Kesimpulan

Pembaca yang saya kasihi, Kristen Fundamental adalah kelompok manusia yang memiliki tingkat toleransi TERTINGGI di dunia. Tetapi sebaliknya memiliki tingkat kompromi TERENDAH di dunia. Kelompok Kristen Fundamental sungguh-sungguh menghayati tugas yang diberikan Tuhan untuk menjadi terang dan garam dunia, tentu bukan dengan pergi kesana kemari sambil membawa lampu petromaks di atas kepala atau selalu menenteng garam di kantong, melainkan melalui doktrin yang alkitabiah yang tidak dikompromikan.

Melakukan pengajaran doktrin yang alkitabiah itu bagaikan menarik sebuah garis yang akan memisahkan antara yang benar dengan yang salah. Garis pemisah antara kebenaran dan kesesatan itu akan menjadi jelas HANYA melalui pengajaran (doktrin). Saat ini memang ada banyak gereja dan denominasi. Tetapi angin yang ditiupkan anti-Kristus maka semua yang berada di bawah pengaruhnya akan menjadi satu kelompok, sedangkan yang dibawah pimpinan Tuhan akan menjadi satu kelompok yang itu terdiri dari jemaat-jemaat lokal yang otonom dan alkitabiah. Kelompok jemaat milik Tuhan akan bekerja sama dalam saling menasehati, saling menguatkan, saling menegur sebagai teman, bukan sebagai atasan-bawahan.

Pembaca yang saya kasihi, ketika garis pemisah ditarik, anda ada di sebelah mana ? Anda ada di sebelah gereja-gereja yang mendukung DOKTRIN GEREJA yang AM yaitu yang suatu hari nanti pasti akan disatukan ke dalam satu organisasi atau anda berada di sebelah gereja-gereja Fundamentalis yang mendukung DOKTRIN GEREJA YANG LOKAL dan otonom atau independen murni dan alkitabiah ?

Ketika Jerman Timur menarik garis perbatasannya (di kota Berlin), dan kemudian membangun tembok, kasihan sekali mereka yang bermain-main di rumah teman mereka di Jerman Timur karena tidak bisa pulang lagi. Kini bukan saatnya untuk bermain-main, melainkan saat mencari tahu, sesungguhnya saya sedang berdiri di pihak mana. Sesungguhnya gereja saya ada di pihak mana. Banyak penduduk kota Berlin yang tejebak karena tidak jeli dalam mengamati situasi. Mereka bersantai ria dan tidak berusaha menyelidiki situasi. Dan yang tahu sedikit juga tidak segera mengambil keputusan karena karena tidak rela meninggalkan sesuatu yang mereka miliki, sayangi, geluti, sehingga ketika tembok Berlin didirikan, yang dapat mereka lakukan hanya menangis, sambil menyesal.

Pembaca, ketahuilah sesungguhnya tidak ada daerah yang disebut zona-netral atau kelompok interdenominasi. Ketika garis ditarik, hanya ada dua wilayah: anda di daerah Kristus sejati atau Kristus palsu. Gereja anda percaya pada Doktrin Gereja Universal (Am) yaitu satu tubuh Kristus yang terdiri Kristen seluruh dunia atau Doktrin Gereja Lokal yaitu tiap-tiap gereja lokal adalah tubuh Kristus yang independen. Atau dengan kata lain anda ada di pihak Fundamentalis atau di pihak Roma Katolik dengan seluruh gereja yang sedang bergerak menggabungkan diri ke dalamnya ? Ingat, hanya ada dua pilihan. Read More ..

Selasa, 11 November 2008

Mengapa Allah mengijinkan bencana alam, misalnya gempa bumi, angin topan, dan tsunami?

Mengapa Allah mengijinkan gempa, angin tornado, topan, tsunami, taifun, longsor, dan bencana alam-bencana alam lainnya? Tragedi tsunami yang menimpa Asia pada akhir tahun 2004, topan Katrina pada tahun 2005 di bagian Tenggara Amerika Serikat, dan pada tahun 2006 longsor di Filipina membuat banyak orang mempertanyakan kebaikan Allah. Memang menyusahkan ketika bencana alam disebut sebagai “tindakan Allah/acts of God” padahal Allah tidak “dipuji” pada saat untuk bertahun-tahun, atau berabad-abad cuaca bagus. Allah menciptakan seluruh alam semesta dan hukum-hukum alam (Kejadian 1:1). Kebanyakan bencana alam adalah akibat dari hukum-hukum alam ini. Topan, taifun and tornado adalah akibat dari bertumbuknya pola cuaca yang berbeda. Gempa bumi adalah akibat dari bergesernya lempengan bumi. Tsunami diakibatkan oleh gempa bumi di bawah permukaan laut.

Alkitab menyatakan bahwa Yesus Kristus menyatukan seluruh alam semesta (Kolose 1:16-17). Dapatkah Allah mencegah bencana alam? Sudah tentu! Apakah kadang-kadang Allah mempengaruhi cuaca? Ya, lihat Ulangan 11:17 dan Yakobus 5:17. Apakah kadang-kadang Allah menggunakan bencana alam sebagai hukuman atas dosa? Ya, lihat Bilangan 16:30-34. Kitab Wahyu menggambarkan banyak peristiwa yang jelas-jelas dapat digambarkan sebagai bencana alam (Wahyu 6, 8 dan 16). Apakah setiap bencana alam merupakan hukuman Allah. Sama sekali tidak!

Sama halnya dengan Allah mengijinkan orang jahat melakukan kejahatan, Allah mengijinkan bumi memperlihatkan konsekwensi dari dosa terhadap ciptaan. Roma 8:19-21 memberitahukan kita, “Sebab dengan sangat rindu seluruh makhluk menantikan saat anak-anak Allah dinyatakan. Karena seluruh makhluk telah ditaklukkan kepada kesia-siaan, bukan oleh kehendaknya sendiri, tetapi oleh kehendak Dia, yang telah menaklukkannya, tetapi dalam pengharapan, karena makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah.” Kejatuhan umat manusia dalam dosa berdampak pada segala sesuatu, termasuk alam semesta yang kita huni. Segala yang ada dalam ciptaan ini takluk kepada “kesia-siaan” dan “kebinasaaan.” Dosa adalah penyebab utama dari bencana alam-bencana alam sama seperti dosa mengakibatkan kematian, penyakit dan penderitaan.

Jadi kita kembali ke awal. Kita dapat memahami bagaimana bencana alam terjadi. Yang tidak dapat kita pahami adalah mengapa Allah mengijinkan itu terjadi. Mengapa Allah mengijinkan tsunami membinasakan lebih dari 225.000 orang di Asia? Mengapa Allah mengijinkan topan Katrina menghancurkan rumah dari ratusan ribu orang? Apa yang kita tahu adalah … Allah itu baik! Ada banyak mujizat yang ajaib dalam berbagai bencana alam yang mencegah hilangnya lebih banyak nyawa. Bencana alam mengakibatkan jutaan orang mengevaluasi kembali prioritas hidup mereka, Ratusan juta dikirimkan untuk membantu orang-orang yang menderita. Pelayanan-pelayanan Kristen memiliki kesempatan untuk membantu, melayani, memberikan konsultasi, berdoa – dan memimpin oran kepada iman keselamatan di dalam Kristus! Allah mampu dan Allah menghasilkan hasil yang baik dari tragedi-tragedi yang menyedihkan (Roma 8:28). Read More ..

Dari Bermimpi Menjadi ‘Konglomelarat’ Akhirnya Malah Jadi Manusia Gua

Lalu Lot melayangkan pandangnya dan dilihatnyalah, bahwa seluruh Lembah Yordan banyak airnya, seperti taman TUHAN, seperti tanah Mesir, sampai ke Zoar. –Hal itu terjadi sebelum TUHAN memusnahkan Sodom dan Gomora. –Sebab itu Lot memilih baginya seluruh Lembah Yordan itu, lalu ia berangkat ke sebelah timur dan mereka berpisah. Abram menetap di tanah Kanaan, tetapi Lot menetap di kota-kota Lembah Yordan dan berkemah di dekat Sodom. Adapun orang Sodom sangat jahat dan berdosa terhadap TUHAN.
Pergilah Lot dari Zoar dan ia menetap bersama-sama dengan kedua anaknya perempuan di pegunungan, sebab ia tidak berani tinggal di Zoar, maka diamlah ia dalam suatu gua beserta kedua anaknya. Kej 13 : 10-13; 19:30

Lot adalah salah satu keponakan Abraham yang dibawa keluar dari Ur-Kasdim. Abraham beserta ayah dan istrinya, Sarai, dan juga Lot keluar dari Ur-Kasdim. Dari Ur-Kasdim kemudian mereka menetap di Haran, dan itu adalah tempat dimana ayahnya meninggal. Seiring berjalannya waktu, akhirnya Abram dan Lot pindah ke tanah Kanaan. Abram dan Lot bertambah kaya dan negeri itu sudah tidak cukup luas lagi untuk mereka berdua. Ketika terjadi percekcokan antara karyawan-karyawan Lot dan Abram, Abram sadar bahwa lebih baik mereka berpisah. Abraham yang lebih dewasa tahu bahwa lama kelamaan bukan hanya karyawan mereka saja yang bertengkar tetapi mereka berdua juga bisa bertengkar. Sifat manusia memang begitu, manusia akan membela segala sesuatu yang merupakan kepunyaannya. Abram sudah memperhitungkan itu baik-baik. Jika perpisahan adalah jalan keluarnya agar mereka dapat bertemu lagi dan tetap memiliki hubungan yang baik dan bahkan kalau berpisah malah jadi makin rindu, maka Abram berpikir itu lebih baik.

Namun mengapa dari seorang yang bermimpi menjadi konglomerat malah bisa berakhir di gua? Ini adalah catatan sejrah yang sangat tragis dari kehidupan seseorang, dari seorang yang cukup banyak karyawan dan harta dan bahkan bermimpi menjadi seorang yang kaya raya tapi akhirnya dia harus tinggal di dalam gua, rumah pun tidak punya.

Pertama, Lot melupakan aturan dalam mengejar kesuksesan. Lot saking tamaknya sehingga melupakan segala jenis aturan. Abraham yang telah membawa dia keluar dari Ur-Kasdim dan tentu saja umurAbraham jauh lebih tua dari Lot. Mestinya Lot merendahkan hati pada saat ditawari oleh Abraham untuk menentukan tempat terlebih dahulu. Lot sewajarnya mengalah kepada Abraham. Tapi Lot tidak melakukannya. Ketika Abraham memberikan tawaran itu, Lot langsung melayangkan pandangnya. Dia melihat tepi sungai Yordan yang sangat subur. Lot hanya berpikiran masalah uang dan keuntungan sehingga semua tata krama atau sopan santun ditabraknya. Tidak baik bagi orang Kristen untuk berlaku seperti itu.

Mungkin Lot ini adalah orang pintar. Namun orang pintar tidak selalu berhasil, mengapa? Karena di dalam dunia ini kita hidup dengan orang lain. Oleh sebab itu, di dalam dunia psikologi selain kita harus mempunyai IQ yang tinggi kita juga harus mempunyai EQ (Emotional Quantity). Ada orang yang pintar sekali tapi tidak pintar bergaul, anda kira dia akan sukses? Itu tidak mungkin akan berhasil. Kita di dunia ini tidak tinggal sendirian, kita tidak hidup dengan mesin dan terus berhubungan dengan komputer. Kita akan keluar dan berinteraksi dengan banyak orang. Justru di dunia ini orang yang berhasil adalah orang yang sangat pintar dalam bergaul dan orang yang sangat sopan. Kepintaran bergaul adalah satu modal yang luar biasa sekali. Anda dapat hidup melayani Tuhan dengan baik, itu tidak 100% tergantung kepada otak kita. Orang yang berhasil adalah orang-orang yang tidak segan menghormati orang lain dan tahu tata krama. Lot tidak mempunyai kapasitas itu, Lot mungkin pintar, ia menghitung-hitung untung ruginya, ia tahu bahwa pertanian butuh air yang cukup banyak, ia tahu bahwa tempat yang subur secara perdagangan pasti baik. Tapi dalam soal tata krama atau sopan santun dan bersikap rendah hati kepada orang lain, dia tidak memilikinya.

Kedua, Lot berani membahayakan diri dan keluarganya dalam mengejar kesuksesan. Gara-gara ingin mendapatkan untung, dia berani nyerempet bahaya. Dia betul-betul berani ambil resiko. Dia tinggal dekat orang-orang jahat. Dia tidak memikirkan nasib keluarganya. Lot akhirnya berbaur dengan orang-orang jahat. Lot mungkin agak sedikit sulit untuk dibuat lebih jahat lagi karena dia sudah cukup tua. Tapi bagaimana dengan nasib anak-anaknya? Disinilah letak kesalahannya. Setiap hari pastilah anak-anak Lot melihat kelakuan orang-orang Sodom. Mereka berbuat jahat, kurang ajar, tidak ada sopan santun dan kasar satu dengan yang lainnya. Wanita suka wanita, pria suka pria. Lot kelihatannya gagal mengajar anak-anaknya. Kalau Lot ingin tinggal dekat kota Sodom dan Gomora, dia harus menyediakan waktu ekstra untuk mengajar anak-anaknya, memberikan perhatian ekstra supaya anak-anaknya jangan terpengaruh dengan orang Sodom melainkan mempengaruhi orang Sodom. Sebenarnya kalau Lot berjuang untuk itu, mungkin ada efeknya. Mungkin tidak akan sampai kejadian yagn tercatat dalam Alkitab yaitu tidak ada 10 orang benar di kota Sodom. Itu artinya kesaksian Lot redup dan pelitanya tidak bersinar terang. Lot mungkin malu bersaksi. Dia merasa tidak perlu menghakimi mereka. Kalau kita mau kategorikan, Lot ini termasuk dalam kelompok Injili. Secara moral, mereka semakin menurun dan pengaruhnya besar sekali terhadap anak-anaknya.

Ada gereja yang berprinsip bahwa cara berpakaian tidak ada hubungannya dengan masalah kerohanian. Betulkah itu tidak ada hubungannya? Apakah orang Kristen harus dress-up (makin rapi) atau dress-down (makin selebor)? Kalau kita makin hari makin selebor maka suatu hari di gereja jemaat akan datang menggunakan pakaian yang konyol-konyol. Bayangkan kalau seorang pemudi di gereja kita memakai teng top, bagaimana reaksi semua pemuda di gereja itu? Mereka tidak bisa berkonsentrasi mendengarkan khotbah dengan baik.

Jadi bagaimana kita menanggapi hal ini? Bagi mereka yang berada di luar Fundamentalis, mungkin tidak akan pusing dengan hal ini. Namun gereja yang alkitabiah akan mengajarkan bahwa ada hubungan yang erat antara cara berpakaian dan kehidupan rohani kita. Gereja yang benar menekankan hidup yang benar di hadapan Tuhan. Oleh sebab itu, kita harus terus berpegang teguh pada Firman Tuhan. Jika dalam suatu gereja seorang pengkhotbah atau pemimpin nyanyi memakai jas namun jemaat memakai kaos oblong, itu tidak matching. Jika seorang pengkhotbah menggunakan jas, itu berarti dia menghormati jemaat. Kita ingin menunjukkan kepada dunia, bahwa kita berkumpul di sini untuk mengadakan kebaktian dan memuliakan nama Tuhan.

Lot tidak terpikir sedikit pun hal yang demikian. Lot membiarkan ankanya memandang kota Sodom dan bergaul dengan mereka. Dr. Bell pernah berkata, “Kota Sodom dan Gomora itu adalah kota yang jahat. Dan sekarang orang Kristen memiliki jendela untuk melihat ke arah kota Sodom.” Jendela ini sekarang bervariasi, ada yang ukurannya 14", 17" atau 21". Dulu lebih cembung tapi sekarang sudah ada yang flat. Anak-anak kita dapat melihat tingkah laku orang dan mendengar cerita dongeng nenek tua. Itu memang teknologi. Kita tidak berusaha menjadi kelompok AMIS yang ada di Amerika. AMIS adalah kelompok Anabaptis yang super-ekstrim, mereka menolak menggunakan telepon, listrik, mobil. Salah satu contoh alat transportasi mereka adalah kuda.

Kita tidak melarang orang untuk memanfaatkan teknologi, itu bahkan bisa digunakan untuk melayani Tuhan. Misalnya, kita menggunakan komputer untuk membuat buku rohani, warta, buletin pedang roh, dll. Namun terkadang ada sisi negatif dari teknologi itu. Kita juga bisa menggunakan televisi sebagai sarana informasi dan pendidikan. Kita bisa dengan cepat mengetahui situasi dunia lewat TV dan kita bisa belajar bahasa asing juga di sana.

Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu. Flp 4:8.

Tuhan mau kita memikirkan semua hal di atas. Allah memberikan kepada kita parabola super mini (telinga) dan kamera super mini (mata). Bagaimana kita dapat memikirkan hal-hal itu jika keseharian kita mendengar dan melihat hal-hal yang tidak beres? Oleh sebab itu, apa yang anda dengar dan lihat akan direkam ke dalam otak kita dan itu akan mempengaruhi hidup kita.
Oleh sebab itu, jika anda ingin hidup kudus arahkanlah pikiranmu ke hal-hal yang positif. Itu berarti dua alat yang diberikan Allah ini harus melihat atau mendengar hal-hal yang positif.

Hari ini kondisi dunia ini tidak kalah hebatnya dengan kondisi kota Sodom dan Gomora saat itu. Ada berapa banyak orang benar di tempat anda sekolah atau bekerja? Kalau di tempat anda sekolah atau bekerja tidak ada 10 orang benar di dalamnya, posisi anda sama dengan posisi Lot saat itu. Oleh sebab itu, kita lebih harus kuat dari Lot, kita harus memiliki tekad yang lebih, mengamankan anak-anak kita. Jadilah orang yang berpendirian teguh! Orang yang memiliki pendirian yang teguh bukanlah orang yang mengikuti orang lain tapi orang yang berusaha supaya orang lain yang justru mencontoh dia. Bisa jadi dalam tempat kerja, hanya anda sendiri yang adalah orang benar. Bisakah anda tetap berdiri teguh dalam hal-hal bersifat prinsip?

Kita melihat akhir hidup Lot yang kacau. Pikiran anaknya dipenuhi pikiran yang kotor. Karena setiap hari melihat dan mendengar hal-hal yang negatif akhirnya anak Lot menjadi rusak. Kalau kita membiarkan seorang anak terhanyut oleh dunia ini dan menunggu arus dunia ini sudah akan menyeretnya kita baru akan menolongnya, itu sudah terlambat. Bukankah lebih baik kita memperingatkan dia terlebih dahulu sebelum dia terhanyut dalam dunia ini? Kita harus memperingatkan anak-anak kita sejak dari kecil.

Apa yang tercatat ini adalah pelajaran bagi kita supaya kita tidak melakukan kesalahan seperti yang dilakukan oleh Lot. Kita lebih baik dari Lot, di tangan kita ada Firman Tuhan tetapi dia tidak. Read More ..

Selasa, 04 November 2008

Belajar Dari Orang Mati

Kita tidak berharap bahwa orang mati dapat berkata-kata memberitahu kita sesuatu, apalagi orang mati itu mau mengajarkan kita sesuatu. Tetapi dalam kasus ini berbeda karena dia diceritakan oleh Tuhan Yesus yang tahu tentang orang mati dan orang hidup. Ini bukanlah cerita mitos atau pun perumpamaan. Sehingga orang mati ini -- satu orang yang real yang pernah hidup di suatu daerah di Israel -- yang kemungkinan besar mati dalam zaman Yesus dan Yesus memilih kasusnya untuk mengajarkan kebenaran-kebenaran yang kekal kepada kita.
Ada suatu pepatah yang berkata, “waktu dan pengalaman adalah guru yang sangat baik, sayangnya mereka membunuh semua murid mereka.” Dengan anda melewati waktu, anda bertemu dengan berbagai hal yang membuat anda lebih berpengalaman dan bertambah pintar, sayangnya mereka semua membunuh muridnya. Karena dengan berlalunya waktu lama-lama orang tersebut akan mati. Artinya ada banyak hal yang nanti kalau kita sudah mati barulah kita tahu itu sudah terlambat. Ada kebenaran-kebenaran mengenai sesudah kematian yang sebaiknya kita ketahui sebelum kita meninggal. Dan itulah yang harus kita pelajari pada saat ini. Apa saja pelajaran yang dapat kita tarik dari kisah orang kaya dan Lazarus?
Pertama, orang mati ini mengajarkan kita bahwa benar-benar ada neraka. Zaman sekarang merupakan pandangan umum bahwa neraka itu tidak ada. Bahkan banyak orang Kristen lebih percaya bahwa neraka itu tidak ada. Tidak jarang juga sekarang gereja menyangkal adanya neraka. Tetapi orang mati ini dan cerita yang diberitahukan Yesus ini memberitahukan kita bahwa neraka benar-benar ada. Bahkan kita diberitahu seperti apa neraka itu.
Neraka adalah suatu tempat. Tempat ini bahkan disebut namanya, yaitu alam maut (ay. 23), bahasa Yunani hadesh, bahasa Ibrani sheol. Ini adalah suatu tempat yang punya nama dan lokasi. Kebanyakan orang meragukan tempat dari neraka ini namun anda tidak perlu tahu persisnya suatu tempat baru anda mengimani bahwa ada tempat seperti itu. Mungkin kebanyakan orang Indonesia itu tidak tahu yang namanya Ujung Kulon itu di mana tapi orang Indonesia percaya bahwa ada tempat yang namanya Ujung Kulon. Alkitab memberitahukan kita suatu tempat dan bahkan memberitahu kita di mana tempatnya dan Alkitab dengan jelas memberitahu kita bahwa hadesh ini berada di bagian bawah bumi atau di pusat bumi (Mzm 63:10, Yeh 31:14). Kalau bumi ini diibaratkan dengan jeruk, kita belum bisa menembus kulit jeruk tersebut. Para ilmuwan belum bisa mengebor sampai bisa menembus ke bagian bumi yang paling dalam. Para ilmuwan belum bisa pergi ke sana dan mereka menduga-duga apa sebenarnya inti bumi ini dan kebanyakan dari mereka percaya bahwa inti bumi ini adalah sesuatu tempat yang panas. Dan Alkitab memberitahu bahwa di situlah hadesh.
Ada banyak orang yang berkata bahwa neraka bukanlah suatu tempat, melainkan situasi. Pendapat mereka bahwa jika kita sudah hidup sengsara di dunia ini maka itu sudah neraka. Namun neraka bukanlah suatu situasi dan kondisi sengsara melainkan suatu tempat yang real. Ini membantah semua kepercayaan yang silih berganti yang berkata, “Allah yang maha kasih tidak mungkin membuat suatu neraka.” Allah yang maha kasih yang juga adalah Allah yang maha adil dan maha murka memang sudah membuat sebuah neraka. Orang kaya ini, yang sudah berada di dalam neraka lebih dari 2.000 tahun, akan mengatakan bahwa neraka adalah tempat yang real.
Bukan hanya neraka adalah tempat yang real, neraka juga adalah tempat penyiksaan. Sengsara seperti apakah yang dia rasakan? Alkitab sangat spesifik berkata bahwa kesengsaraan dalam neraka adalah oleh karena panasnya api. Neraka, yang adalah suatu tempat yang terdapat api, inilah yang dicemooh oleh orang-orang zaman sekarang. Neraka dari awalnya tidak pernah dijadikan senjata untuk menakut-nakuti orang. Tetapi adalah suatu tempat yang real dan adalah tempat penyiksaan.
Selain tempat penyiksaan, neraka adalah tempat penyiksaan yang kekal (Mat 25:46). Orang kaya ini berkata, “Aku ingin ke sana (ke tempat Abraham).” Tetapi tidak bisa, karena ada jurang yang memisahkan mereka. Mungkin ada orang yang percaya akan neraka, namun Iblis tidak habis akan untuk menghasut manusia dengan berkata bahwa neraka bukanlah tempat penyiksaan yang kekal.
Kedua, tidak ada sesuatu apapun di dunia ini yang cukup berharga yang kita dapatkan kalau ternyata kita masuk neraka. Ketika kita melihat betapa menderitanya dan menyesalnya orang kaya itu, bukankah itu memberikan pelajaran yang pasti bagi kita bahwa sungguh kita harus melakukan daya upaya agar kita terlepas dari tempat itu. Itu adalah pelajaran yang patut kita terima. Tidak sia-sia Yesus berkata dalam Mat 5:29-30, “Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka. Dan jika tanganmu yang kanan menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa dari pada tubuhmu dengan utuh masuk neraka.” Yesus tidak mengajarkan kita di sini untuk memutilasi diri tapi Yesus ingin ajarkan bahwa lakukanlah segala yang bisa kita lakukan agar dapat masuk surga, untuk lepas dari neraka. Kalau itu semahal tangan kananmu, lakukan. Kalau itu semahal mata kananmu, lakukan. Tetapi kenyataannya manusia tidak bisa masuk surga dengan memutilasi diri. Kalau demikian bagaimana manusia bisa masuk ke dalam surga? Yesus dengan jelas berkata: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Di hadapan murid-murid-Nya Dia berkata: “Aku adalah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yoh 14:6). Jalannya dengan jelas dinyatakan oleh Yesus, yaitu percaya dan bertobat menerima Dia sebagai Juruselamat. Kalau dengan mengorbankan tangan, kaki dan mata saja orang mau lakukan untuk masuk ke dalam surga, betapa terkutuknya kalau dengan jalan semudah ini -- hanya dengan percaya dan menerima dia sebagai Tuhan dan Juruselamat – orang yang tetap menolaknya. Kalau anda belum yakin akan masuk surga pada saat membaca artikel ini bereskan sekarang juga, karena siapa tahu neraka menunggu anda besok pagi.
Orang kaya ini mungkin sudah banyak menghadiri penguburan. Tapi apakah dia pernah berpikir bahwa suatu hari dia adalah tamu yang diam dalam penguburannya sendiri dan dialah yang ditangisi orang. Pada saat kita menghadiri penguburan, apakah kita pernah berpikir bagaimana jikalau andalah yang terbujur kaku di situ? Ingatlah bahwa suatu saat anda akan seperti itu! Tidak ada satu pun hal di dunia yang pantas untuk kita pertahankan kalau itu berarti kita masuk neraka, baik itu segala kekayaan maupun harga diri kita. Kita patut merendahkan diri kepada Yesus meminta ampun dan mengaku salah dan setelah itu akan terjadi perubahan yang luar biasa. Ini bukan hanya membuat perbedaan bagi hidup seseorang tapi juga bagi matinya seseorang. Orang yang tidak percaya tidak bisa menghadapi kematian dengan baik. Bagi orang yang sudah percaya maut tidak lagi menakutkan seperti kata rasul Paulus dalam I Kor 15:55, “Hai maut, di manakah sengatmu?" Bagaikan sebuah ulat bulu yang ketika meninggalkan kepompongnya menjadi seekor kupu-kupu yang indah, demikianlah kematian bagi setiap orang percaya. Memang kita merasa sedih ditinggalkan oleh orang yang kita cintai tetapi kita harus ingat bahwa mereka sekarang mempunyai tubuh yang jauh lebih canggih dan sehat daripda kita sekarang jikalau orang tersebut adalah orang percaya.

Ketiga, bahwa memperhatikan jiwa-jiwa yang tersesat janganlah menunggu kita mati dan janganlah menunggu mereka mati. Jikalau anda ingin bekerja untuk Tuhan dengan memenangkan jiwa bagi Tuhan, maka lakukanlah saat ini ketika anda masih hidup dan lakukanlah itu saat mereka masih hidup. Karena jikalau anda sudah mati dan mereka sudah mati maka itu sudah terlambat. Banyak orang selalu menunda-nunda waktu untuk mengambil keputusan melayani Tuhan. Ada suatu pepatah yang berkata, “Kalau kita mulai berkata besok maka akhirnya tidak akan pernah jadi.”
Kalau anda ingin mmperhatikan jiwa-jiwa yang tersesat, ambillah pelajaran dari orang mati ini jangan lakukan setelah itu terlambat. Ketika orang kaya ini mati baru dia tersadar dan berkata kepada bapa Abraham, “Bapa, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku, sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya ia memperingati mereka dengan sungguh-sungguh, agar mereka jangan masuk kelak ke dalam tempat penderitaan ini.” Pikiran yang mulia sekali tapi sungguh terlambat. Kenapa anda tidak berpikir seperti itu pada saat anda masih hidup bahkan untuk jiwa anda sendiri? Namun banyak orang yang sudah diselamatkan pun tidak memikirkan keselamatan jiwa orang lain.

Keempat, kita belajar bahwa pelayanan yang benar adalah pelayanan yang sesuai dengan Firman Tuhan. Tuhan menempatkan Firman-Nya di atas segala-galanya, bahkan di atas mukjizat. Rupanya orang kaya ini - jikalau dia masuk ke gereja - dia akan pilih gereja kharismatik.
Dia meminta agar Tuhan membangkitkan Lazarus dan dengan cara itu maka orang-orang yang menyaksikan itu akan percaya. Tapi Tuhan bilang, “Tidak, pada mereka ada kesaksian para nabi dan Musa.” Intinya Tuhan ingin berkata bahwa mereka sudah mempunyai Alkitab. Kalau mereka tidak mau percaya Alkitab mereka tidak akan percaya sekalipun ada orang yang bangkit di antara mereka. Apakah ada orang yang dapat diselamatkan karena mukjizat? Tidak. Tuhan telah menempatkan Firman-Nya di atas segala-galanya sehingga cara-cara lain yang bertentangan dengan Firman Tuhan tidak akan membuahkan hasil yang Tuhan inginkan. Pada apakah anda membangun pelayanan anda? Apakah pada Firman Tuhan atau teknik-teknik dunia?

Mari kita belajar dari orang mati! Read More ..

Sabtu, 01 November 2008

Mengapa Doamu Tidak Dikabulkan?

Kamu mengingini sesuatu, tetapi kamu tidak memperolehnya, lalu kamu membunuh; kamu iri hati, tetapi kamu tidak mencapai tujuanmu, lalu kamu bertengkar dan kamu berkelahi. Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa. Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu.
Yak 4 : 2-3

Apa yang ditulis dalam surat Yakobus ini sungguh relevan untuk segala zaman. Manusia biasanya menjadi gelisah ketika dia tidak mendapatkan apa yang dia ingini, ia menjadi seperti cacing kena abu. Dan bahkan dalam terminologi Yakobus di sini lebih diekstrimkan lagi: kamu membunuh, iri hari, bertengkar, berkelahi.

Kita akan melihat bagaimana Yakobus menuding kepada akar permasalahan mengapa doa kita tidak dijawab. Hal pertama, yang kita lihat di sini adalah mereka tidak mendapat karena mereka tidak berdoa. Ada banyak orang Kristen–orang yang mengaku percaya kepada Yesus–menginginkan atau mengidam-idamkan sesuatu tapi tidak berdoa. Permasalahannya bukan karena bukan karena manusia tidak suka meminta-minta, tapi karena tidak cukup berdoa pada awalnya. Ketika mereka memilpiki satu kebutuhan, hal pertama yang mereka pikirkan adalah bagaimana caranya saya bisa mendapatkan hal ini dan bukannya berdoa. Karena mereka pada dasarnya tidak berdoa dan ketika mereka memiliki suatu kebutuhan pun bukan doa yang menjadi tumpuan mereka. Mungkin doa adalah opsi terakhir ketika segala sesuatunya buntu. Tuhan mengajarkan kepada murid-murid-Nya untuk terus berdoa. Yesus sendiri memberikan contoh kehidupan yang penuh doa.

Kamu tidak beroleh apa-apa karena kamu tidak berdoa. Mungkinkah ini merupakan barometer bagi jemaat Kristen hari ini? Dan mungkin juga itu menjadi barometer juga bagi kita? Kalau orang Kristen tidak berdoa, ini tidak dapat disangkal lagi. Bahkan ada yang pernah mengatakan bahwa dosa yang paling banyak dilakukan oleh orang Kristen adalah ‘tidak berdoa,’ karena perintah Tuhan adalah ‘tetap berdoa’ dan setiap kali anda tidak berdoa anda telah melanggar perintah Tuhan. Bisa jadi ini merupakan barometer seberapa sehatnya kekkristenan hari ini. Contohnya, jika jemaat yang hadir kebaktian hari Minggu berjumlah 100 orang, maka seharusnya yang hadir dalam Persekutuan Doa minimal 70%-nya. Tapi dalam kenyataannya tidak seperti itu, bahkan persentasenya hanya 30-40%. Maka benarlah apa yang dikatakan oleh Alkitab: Kamu tidak beroleh apa-apa karena tidak berdoa. Tentu doa sebagai satu jemaat merupakan barometer yang cukup baik, tetapi tidak berhenti sampai di situ, yang menjadi tolak ukur yang lain adalah apakah anda sudah berdoa atau melakukan renungan secara pribadi? Kata ‘kamu tidak beroleh apa-apa,’ termasuk di dalamnya tidak memperoleh pertumbuhan rohani, kematangan rohani dan kedewasaan iman. Tuhan Yesus pernah mengatakan, “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu” (Mat 7:7). Allah yang di surga memberikan gambaran kepada kita bahwa dia adalah Allah yang siap memberi. Yesus pernah memberikan satu perumpamaan yang bertujuan agar murid-murid-Nya tidak jemu-jemu berdoa.

2 Kata-Nya: “Dalam sebuah kota ada seorang hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorangpun. 3 Dan di kota itu ada seorang janda yang selalu datang kepada hakim itu dan berkata: Belalah hakku terhadap lawanku. 4 Beberapa waktu lamanya hakim itu menolak. Tetapi kemudian ia berkata dalam hatinya: Walaupun aku tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorangpun, 5 namun karena janda ini menyusahkan aku, baiklah aku membenarkan dia, supaya jangan terus saja ia datang dan akhirnya menyerang aku." 6 Kata Tuhan: "Camkanlah apa yang dikatakan hakim yang lalim itu! 7 Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka? 8 Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?"
Luk 18: 2-8

Mungkin ada yang di antara kita berkata, “Saya sudah berdoa tapi tidak dikabulkan.” Mengapa? Ada banyak alasan. Alasan pertama, karena anda salah berdoa, karena apa yang engkau minta adalah sesuatu yang jelek dan buruk, yang ingin engkau habiskan untuk nafsumu, kalau Tuhan memberikan hal itu kepadamu Tuhan akan mencelakakan engkau.

7 "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. 8 Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan. 9 Seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, 10 memberi ular, jika ia meminta ikan?
Mat 7:7-10

Jangan-jangan anda meminta ‘batu’ atau ‘ular!’ Memang kalau kamu minta roti maka Tuhan akan memberikan roti. Karena Tuhan tidak mungkin memberikan batu kepada anda.

Anda salah berdoa karena kamu akan habiskan untuk hawa nafsu. Sebelum kita berdoa kita perlu cek dulu: Apakah kita berdoa karena keegoisan kita? Dan apakah kita tidak memiliki hati nurani padahal kita sudah yakin betul bahwa itu bertentangan dengan Firman Tuhan? Jangan-jangan yang anda minta itu bertentangan dengan Firman Tuhan!

7 Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri. 8 Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur dari padaku. 9 Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.
II Kor 12:7-9

Alasan kedua–mengapa kadang-kadang kita berdoa dan Tuhan tidak mengabulkan doa kita–terilustrasikan dalam kasus Paulus. Rasul Paulus bukan sembarang orang. Kalau ada orang yang berpikir bahwa orang yang bisa berdoa dan doanya dikabulkan Pauluslah orangya. Karena doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya (Yak 5:16). Apakah rasul Paulus kurang benar? Seorang rasul yang giat melayani Tuhan dan giat memberitakan Injil. Tetapi Tuhan mengatakan: “Aku mempunyai rencana yang baik dalam hidupmu dengan keadaanmu yang seperti ini.” Kadang2 kita bertanya mengapa kita berada dalam lingkungan yang seperti ini atau mengalami hal-hal yang buruk. Tuhan tidak memberikan apa yang rasul Paulus minta. Mungkin Tuhan mempunyai rencana dalam hidupmu yang seperti itu. Tuhan melihat bahwa keadaan kita masih baik sekarang ini.

Tetapi, ingatlah kepadaku, apabila keadaanmu telah baik nanti, tunjukkanlah terima kasihmu kepadaku dengan menceritakan hal ihwalku kepada Firaun dan tolonglah keluarkan aku dari rumah ini. Kej 40:14

Alasan ketiga, karena waktunya belum sampai. Waktu itu Yusuf berada dalam tahanan yang sangat ketat, dan di dalamnya ada juga juru minum dan juru roti. Saya yakin Yusuf berada di sana bukan karena kesalahannya, bahkan dia sudah mengikuti perintah Tuhan–ketika istrinya Potifar merayunya dan dia menepis semuanya itu, tetapi apa yang dia dapatkan? Bukan pujian tapi malah penjara. Dan Yusuf pastilah sering berdoa kepada Tuhan. Ketika dia melihat ada kesempatan pada saat juru minum akan dibebaskan, dia berpesan kepadanya. Juru minum saat itu bukan orang yang berpangkat rendah. Bahkan dengan diiringi doa pun rupanya juru minum itu tetap tidak ingat kepada Yusuf selama 2 tahun. Tapi ini merupakan contoh yang sangat baik, mengapa doa Yusuf tidak didengar. Karena Tuhan mengatakan, “Belum saatnya.” Waktu Tuhan jauh lebih baik, ada saatnya apa yang kamu minta akan diberikan dan hasilnya akan jauh berlimpah-limpah. Kalau juru minum itu mendengarkan kata-kata Yusuf saat itu, mungkin Yusuf akan menjadi orang merdeka begitu saja dan tidak akan memiliki kesempatan untuk menjadi orang kedua di Mesir. Itulah kenapa Allah mengatakan bahwa kita tidak boleh jemu-jemu berdoa.

Alasan keempat, kadang-kadang kita saking bingungnya mengapa Tuhan tidak mengabulkan permintaan kita, kita tidak sadar bahwa Tuhan telah atau akan memberikan yang lebih baik. Daud, misalnya, telah meminta kepada Tuhan agar ia diizinkan untuk mendirikan rumah bagi Tuhan. Nah, ini kedengarannya adalah suatu permintaan yang sangat baik, dan juga didasari atas suatu motivasi yang baik. Tetapi Tuhan tidak mengabulkan permintaannya itu. Sejenak sepertinya tidak ada alasan untuk tidak mengabulkannya.
Tetapi, Tuhan tidak memberikan hal itu, karena Ia memiliki hal yang lebih baik. Pada perikop ini, dan pada kesempatan ini, Tuhan memberikan janji pada Daud bahwa ia akan menjadi nenek moyang Yesus Kristus. Dalam perikop ini kerajaan, takhta, dan keluarga Daud dikatakan akan diteguhkan untuk selama-lamanya. Pada awalnya, Daud bisa saja berpikir bahwa ia kehilangan kesempatan untuk terkenal sebagai pembangun bait Allah. Tetapi, pada kenyataannya Tuhan memberikan yang lebih baik, ia dikenal sebagai leluhur dari Yesus Kristus. Untuk mengakhiri renungan ini, marilah kita baca Efesus 3:20, “Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita.” Read More ..

Supported By

Share Link

IFB KJV Directory