Tampilkan postingan dengan label Hall of Heroes. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hall of Heroes. Tampilkan semua postingan

Kamis, 27 November 2008

Nicholas Burton


Kesempatan Untuk Menderita


Ada seorang pedagang bernama Nicholas Burton, seorang warga kota London yang tinggal di kota St. Bartholomew. Suatu hari datanglah seorang "Yudas", artinya seorang yang kenal dengan para Inkuisitor Roma Katolik, yang berpura-pura ingin mengantarkan surat yang harus disampaikan langsung kepada Burton. Namun ketika ia bertemu dengannya, ia menciptakan cerita lain, bahwa ia mau mengantarkan sejenis barang ke London dengan perantaraannya, dan pada intinya mengulur waktu sampai seorang perwira Inkuisisi datang untuk menangkapnya.


Ketika Burton sadar bahwa mereka tidak mempunyai alasan apapun menurut hukum dunia maupun hukum Surga untuk menahannya, ia dengan lantang menantang mereka untuk menunjukkan apa kesalahannya. Namun ia tidak dijawab sedikitpun, bahkan mereka menyuruhnya untuk diam dan tidak berkata sepatah katapun. Maka mereka mengurungnya dalam penjara bersama para penjahat biasa selama 14 hari.


Selama hari-harinya ia di situ, ia memberitakan Firman Tuhan kepada para tahanan itu sesuai karunia yang ia miliki. Dan ia berhasil menyelamatkan beberapa dari mereka, sehingga mereka menyangkali iman dan tradisi-tradisi mereka yang salah.


Ketika hal ini diketahui oleh para Inkuisitor, mereka menjadi murka dan memindahkannya ke penjara yang lebih ketat, dimana mereka mulai menyiksanya sesuai kebiasaan mereka yang kejam. Ia disiksa sedemikian hingga akhirnya ia tidak dapat lagi berkata-kata atapun menulis dengan tangannya, sehingga ia tidak dapat memberitahukan siapa yang telah menyiksanya.


Pada tanggal 20 Desember 1560, ia dibawa ke Sevilla bersama orang-orang Kristen lainnya yang juga menolak untuk menyangkal iman mereka. Di sana ia diadili dan dinyatakan bersalah. Ia dikenakan jaket kanvas yang bergambar Iblis sedang menyiksa orang dalam api, dan juga di kepalanya topi dengan gambar serupa. Lidahnya ditarik keluar dengan dijepit kayu penjepit supaya ia tidak dapat bersaksi tentang imannya kepada semua orang.


Ia dan para tahanan lainya dibawa keluar kota dimana mereka dibakar hidup-hidup. Karena iman mereka yang teguh, nama Allah dimuliakan. Allah memberikan kesempatan bagi mereka untuk menderita bagiNya, suatu karunia yang langka. Di Surga kelak mereka akan menerima mahkota kehidupan dan juga kemuiaan yang jauh, jauh melebihi penderitaan mereka di bumi.

Read More ..

Rabu, 26 November 2008

Balthazar Hubmaer

Sahabat Yang Menjadi Penganiaya


Balthazar Hubmaer dilahirkan di Friedburg, Bavaria, pada tahun 1480. Walau ia belajar filosofi dan theologi di bawah Eck, antagonis Martin Luther, ia memeluk pandangan-pandangan Luther pada tahun 1522. Ia berhubungan baik dengan Zwingli dan membantunya dalam debat akbar melawan Gereja Katolik pada tahun 1523. Sesudahnya mereka menjadi sahabat yang dekat sekali.


Hubmaer, karena ia seorang peneliti Alkitab dan pengkhotbah yang berani, akhirnya menyadari bahwa Reformasi di Zurich tidak kembali ke model zaman para Rasul. Secara perlahan namun pasti, ia percaya kepada pandangan kaum Anabaptis, yang menyebabkan keretakan hubungannya dengan Zwingli. Dia membangun sebuah gereja Anabaptis dan membaptiskan lebih dari 300 orang yang dulu mengikutinya. Dia suka berkhotbah di tempat terbuka dan populasi di sekitarnya mayoritas menjadi Baptis.


Popularitas pengkhotbah ini dan keefektifan khotbahnya menarik perhatian para Reformer dan gereja Katolik. Dalam waktu singkat ia ditangkap dan dilemparkan ke dalam penjara bawah tanah bersama lebih dari 20 orang. Ia mencoba memohon kepada Zwingli, sahabat lamanya, kepada Kaisar, dan kepada Konsili, tetapi tanpa hasil. Kesehatannya terus merosot, istrinya juga dipenjarakan, tidak ada makanan selain roti dan air yang tidak dapat dimakan karena bau busuk mayat yang sangat menyengat. Satu-satunya harapan hanyalah pada kematian atau penyangkalan iman. Zwingli dan beberapa lainnya mengunjunginya untuk membujuknya menyangkali imannya, dan dengan menggunakan alat rak (alat yang dipakai untuk penyiksaan) dan juga karena kondisinya yang lemah ia setuju menyangkal beberapa poin imannya.


Di hadapan jemaat yang besar, setelah Zwingli berkhotbah mengutuk bidat-bidat Anabaptis, Hubmaer naik ke mimbar dan mulai membacakan penyangkalan imannya dengan suara yang lemah dan gemetar. Sambil ia terhuyung-huyung di amimbar, tiba-tiba ia berdiri tegak dengan kekuatan yang Allah berikan, dan berteriak hingga memenuhi katedral itu, "Baptisan bayi tidak berasal dari Allah, dan orang harus dibaptis oleh iman dalam Kristus!". Jemaat menjadi ribut, beberapa syok dan ada yang berteriak mendukungnya hingga ruangan itu bergema. Hubmaer diseret kembali ke penjaranya, dan di sana sekali lagi ia menuliskan pengakuan imannya.


Pada 10 Maret 1528, ia dituntun kepada kematiannya dengan hati yang tertancap dalam kebenaran yang telah ia temukan dalam Kristus Yesus dan FirmanNya. Sambil istrinya memberikannya semangat agar kuat dan setia, ia dibawa ke tumpukan kayu kering. Ia ditelanjangi dan rambut serta jenggotnya dilumuri belerang dan bubuk mesiu. Ia masih tetap berdoa untuk pengampunan bagi algojonya, dan ia berdoa menyerahkan rohnya kepada Tuhan. Api ditebarkan dan ketika rambut dan jenggotnya mulai terbakar, ia berteriak, "Oh, Yesus! Yesus!". Tiga hari kemudian istrinya menyusulnya di Surga, setelah dieksekusi dengan ditenggelamkan di sungai Danube.

Read More ..

Supported By

Share Link

IFB KJV Directory